Jumat, 25 Oktober 2013

Wanita Mulia yang Didoakan Panjang Umur Oleh Rasulullah SAW


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ






       Amah binti Khalid adalah putri Khalid bin Sa’id dengan isterinya Umainah binti Khalaf bin As’ad bin Amir Al-Khuzaiyah. Mereka termasuk generasi awal yang beriman kepada Nabi Muhammad saw.
       Amah binti Khalid di lahirkan di Habasyah (Ethiopia), tempat hijrah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw, karena Raja Habasyah tidak pernah menzalimi siapapun. Sedangkan Rasulullah saw sangat prihatin melihat pada awal munculnya Islam di Mekah, hanya beberapa orang yang beriman kepada Nabi saw. Mereka mendapat siksaan dan penganiayaan dari masyarakat Quraisy Mekah dan hidup merekapun penuh penderitaan. Maka Nabi saw menganjurkan hijrah ke Habasyah, di tempat ini kaum muslimin bertetangga dengan orang Najasyi yang baik dan ramah.
      Ketika itu, orang mukmin yang hijrah ke Habasyah bisa dihitung di antaranya, yaitu Utsman bin Affan dan isterinya Ruqayyah binti Rasulullah saw, Khalid bin Sa’id dan isterinya Umainah (orang tua Amah binti Khalid).
      Sewaktu kecil Amah binti Khalid sangat menikmati kisah tentang Nabi Muhammad saw dari orang-orang di sekelilingnya. Suatu senja ayahnya Khalid bin Sa’id masuk ke kamar puterinya itu. Tak di sangka, gadis cilik itu sudah menunggu ayahnya untuk bercerita tentang kisah-kisah pejuang Islam.
      Sang ayah (Khalid bin Sa’id) lalu bercerita : “ Suatu malam, aku pergi tidur dan bermimpi. Rasanya, aku berdiri di tepi kobaran api besar. Tiba-tiba ayahku Sa’id bin Al-Ash, mendorongku ke arah api itu. Ia berniat melemparkan aku ke dalam api yang sedang berkobar-kobar itu. Aku sangat takut. Aku berteriak sekeras-kerasnya. Tiba-tiba Muhammad datang. Ia memegang pakaianku dan menjauhkan aku dari nyala api itu.”
     Pagi-pagi benar, aku bangun dan buru-buru menemui Abu Bakar Shiddiq, karena ia adalah orang yang paling ahli menafsirkan makna mimpi. Setelah mendengar tentang mimpiku, maka Abu Bakar berkata : “ Hai Khalid, Allah menghendaki kebaikan bagimu. Sekarang , Muhammad berada di dekatmu. Temuilah dia dan ikutilah perkataannya, karena dia akan menjauhkanmu dari api neraka. Sedang ayahmu Sa’id, akan jatuh ke dalam kobaran api neraka. Wahai Khalid, selamatkanlah dirimu dengan mengikuti Islam !.”
      Setelah mendapat nasehat itu, aku segera menemui Muhammad dan bersaksi di depan beliau bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Aku menjadi orang yang beriman, begitu pula dengan ibumu. Dengan demikian mimpiku terwujud.
      Amah binti Khalid mendengar cerita ayahnya dengan saksama. Pikirannya yang masih polos menangkap sesuatu yang ganjil dari kisah tersebut, dia bertanya :“Ayah,mengapa kakek tidak masuk Islam? ”
        Khalid bin Sa’id terdiam, pandangannya merunduk ke bawah. Air mata bening mulai memenuhi kedua pelupuk matanya. Dipandanginya anak kesayangannya itu, dan berkata : “ Putriku, kakekmu Said bin Al-Ash adalah salah seorang tokoh Quraisy. Kedudukannya sangat penting. Perkataannya didengar kaumnya. Ia dikenal dengan nama Abu Uhaihah yang cerdas. Sayang, setan menguasai jalan pikirannya. Ia berang ketika mendengar bahwa aku masuk Islam. Ia memintaku agar meninggalkan Muhammad. Tapi, aku menolak keras permintaan kakekmu itu dan tetap memeluk agama Allah. Karena itu, ia memukuliku.”
      Kakekmu melarang anak-anaknya(saudaraku) yang lain berbicara denganku. Jika salah seorang di antara mereka melanggar larangannya, tidak diberi makan dan minum. Kakekmu juga melarang ayah makan dan menetap di rumahnya. Ia berkata : “ Hai orang hina, pergilah dari rumahku ke manapun engkau inginkan. Demi Lata dan Uza, aku tidak akan memberimu makan lagi ! ”
      Amah binti Khalid, walaupun masih kecil sudah bisa merasakan penderitaan batin ayahnya. Namun ia masih penasaran. Sambil mendekap ayahnya, Amah binti Khalid berbisik : “ Lalu, kapan Ayah masuk Islam ?”
      Khalid bin Sa’id segera mendekap anaknya ke dadanya, dengan lembut ayahnya berkata : “ Aku termasuk orang-orang yang pertama kali diberi kenikmatan iman. Orang yang masuk Islam bersamaku adalah pamanmu Amr bin Sa’id. Tetapi pamanmu yang lain Aban bin Sa’id belum masuk Islam hingga sekarang.”
      Amah binti Khalid mencoba kembali bertanya kepada ayahnya tentang nasib kakeknya : “ Ayah, bagaimana dengan kakekku? Apakah Allah memberinya petunjuk untuk masuk Islam ataukah tetap berada dalam kekafiran ?”. Khalid bin Sa’id lalu berkata : “ Putriku sayang, kakekmu tetap berada dalam kekafiran dan kesombongan.”
      Setelah beberapa tahun mengungsi ke Habasyah, Amah binti Khalid bersama orang tuanya dan sebagian kaum Muhajirin yang lain mengikuti Rasulullah saw, menetap di Madinah dan mendapat perhatian dan asuhan dari Rasulullah saw. Mereka belajar Islam secara langsung kepada Rasulullah saw, termasuk Amah binti Khalid.


      Ketika Amah binti Khalid menginjak dewasa, dia dinikahi oleh Zubair bin Awwam, sahabat setia Rasulullah saw. Dari pernikahan itu, Amah binti Khalid mendapat dua anak lelaki, yaitu Umar dan Khalid. Mereka menjadi anak saleh dan meneruskan perjuangan Rasulullah saw, sehingga Amah binti Khalid kemudian mendapat nama panggilan “Ummu Khalid”.
       Amah binti Khalid ini menerima kehormatan agung di sisi Rasulullah saw, dan menjadi shahabiyah (sahabat perempuan) beliau saw. Rasulullah saw juga menghormati kedua orang tuanya Amah binti Khalid ini.
      Salah satu kisah bagaimana Rasulullah saw dekat dengan Amah binti Khalid, diriwayatkan Imam Bukhari : “ Beberapa pakaian yang di dalamnya terdapat pakaian bergaris-garis (dengan sutra atau wol) dibawa Rasulullah saw, Beliau bersabda : “ Menurut kalian, siapa yang paling layak kita beri pakaian ini ? ”. Orang-orang diam, kemudian Rasulullah saw bersabda : “ Bawa kemari ummu khalid (ibu Khalid).”
       Tidak berapa lama, Amah binti Khalid dibawa menghadap Rasulullah saw, kemudian beliau memakaikan pakaian tersebut kepada Amah binti Khalid, sambil berkata : “ Kenakan pakaian ini hingga lusuh.” Rasulullah bersabda seperti itu hingga dua kali. Itu artinya, Rasulullah saw mendoakan agar Amah binti Khalid panjang umur.
       Prestasi paling menonjol yang dicapai Amah binti Khalid adalah menulis Sirah Nabawiyah (Sejarah Nabi) dengan hadits-hadits yang baik. Ia pun menyimpan banyak hadits yang didengarnya dari ayahnya ketika berada di Habasyah. Amah binti Khalid pernah mengatakan : “ Ayahku adalah sahabat yang pertama kali menulis, “Bismillahirramanirrahim.”


Amah binti Khalid termasuk wanita mulia, karena meriwayatkan tujuh hadits Rasulullah saw, atau disebut ‘Ashhabus-sabah’
      Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Amah binti Khalid  di Habasyah dari ayahnya : “ Pada suatu malam, sebelum Muhammad diutus Allah menjadi Rasul-Nya, Khalid bin Sa’id tertidur, kemudian berkisah : Aku lihat, sepertinya Mekah diselimuti kegelapan hingga seseorang tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri. Ketika itu, tiba-tiba ada cahaya keluar dari Zamzam, kemudian naik ke langit, lalu menyinari Ka”bah dan seluruh Mekah. Setelah itu, cahaya itu pindah ke Yatsrib (Medinah) dan menyinarinya hingga aku mampu melihat kurma yang belum matang. Aku bangun, lalu menceritakan mimpiku kepada saudaraku Amr bin Sa’id, yang memang orang cerdas. Ia berkata :   Saudaraku,  sesungguhnya urusan itu terjadi di Bani Abdul Muthalib. Tidakkah engkau lihat bahwa urusan tersebut keluar dari lubang nenek moyang mereka?”
       Setelah Muhammad bin Abdullah menjadi Rasul, ayah Amah menceritakan mimpinya itu kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian bersabda : “ Hai Khalid, demi Allah, akulah cahaya tersebut. Akulah utusan Allah.”
       Amah binti Khalid adalah salah seorang putri sahabat yang karena keberkahan Rasulullah saw, berumur panjang. Dia hidup hampir 90 tahun. Tentang hadits mengenai doa Rasulullah saw (Shollallahu’alaihi was salam) kepada Amah binti Khalid, Imam Bukhari , berkata : “ Tidaklah ada wanita yang hidup lebih lama seperti dia.”









*******
Sumber :


-Alkisah Bacaan Keluarga Islam No.06/Tahun III/14-27 Maret 2005.