Senin, 28 Oktober 2013

Wanita Mulia dari Mesir yang Membuat Rasulullah Gembira dan Bahagia


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




    
       Berita tentang kedatangan seorang nabi di Jazirah Arab, pembawa ajaran agama dari langit yang baru telah tersebar sampai di kalangan rakyat Mesir. Berita itu diperkuat oleh kedatangan utusan Rasulullah saw, Hathib bin Abi Balta’ah yang menyampaikan surat kepada Muqauqis.
      Setelah membaca surat dari Rasulullah saw itu, dengan hati-hati dan penuh hormat Muqauqis menyimpan surat tersebut dalam sebuah kotak yang terbuat dari gading. Lalu ia minta agar Hathib bin Abi Balta’ah menjelaskan pribadi dan sifat-sifat Rasulullah saw, apa saja yang diperbuat dan bagaimana keadaan para pengikutnya. Ia mendengarkan penjelasan Hathib bin Abi Balta’ah dengan penuh perhatian.
      Setelah berpikir beberapa saat, Muqauqis berkata : Aku telah mengetahui bahwa seorang nabi akan datang. Menurut perkiraanku, dia akan muncul di Palestina sebab di sana banyak nabi bermunculan. Namun kenyataannya nabi terakhir itu muncul di negeri Arab.Jika aku memeluk agama Muhammad, orang-orang Qibti tidak akan menyetujuinya.”
     Tak lama kemudian ia memanggil sekretarisnya untuk menjawab surat Rasulullah saw. Bunyi surat itu : “Surat Tuan telah saya baca, dan saya memahami dan mengerti apa yang Tuan maksudkan. Sejak lama saya telah mengetahui akan datangnya seorang nabi yang saya perkirakan akan muncul di negeri Syam. Utusan Tuan kami hormati sebagaimana layaknya.Dan bersama ini saya kirimkan dua wanita yang punya kedudukan tinggi di Qibti. Selain itu juga saya kirimkan sejumlah pakaian dan ternak. Selamat Sejahtera bagi Tuan.”
     Selain itu secara lisan, Muqauqis berpesan kepada Hathib bin Abi Balta’ah agar apa yang telah mereka bicarakan tidak kedengaran oleh seorangpun di Qibti, katanya : “Saya tidak dapat memenuhi ajakan Muhammad untuk memeluk agama baru itu, karena rakyat Qibti sangat kuat berpegang pada agama leluhur, Mereka tentu tidak senang jika saya memeluk agama baru itu.”
     Maka pulanglah Hathib bin Abi Balta’ah ke Madinah bersama Maria dan Sirin serta seorang pembantu. Tak lama kemudian Rasulullah saw yang baru kembali dari Hudaibiyyah, menerima kedatangan Hathib bin Abi Balta’ah. Singkat cerita, Nabi saw kemudian menikahi Maria Al-Qibtiyah, sedangkan Sirin dinikahkan dengan Hasan bin Tsabit.
     Maria  Al-Qibtiyah lahir di desa Hifn, dekat kota kuno Anshina di sebelah timur sungai Nil. Di belakang namanya ada gelar Al-Qibtiyah, karena ia berasal dari suku Qibti, Mesir, yang beragama Kristen ortodoks. Ayahnya bernama Syam’un, asli Qibti, sedangkan ibunya berdarah Romawi beragama Nasrani. Ketika menginjak remaja, ia dan saudaranya Sirin, diambil oleh Muqauqis sebagai dayang-dayang.
     Berbeda dengan para istri Rasullah saw yang lain, Maria  Al-Qibtiyah adalah seorang sariyyah, yaitu istri yang sah menurut syariat tapi tidak berstatus resmi sebagai istri sepenuhnya. Oleh karena ia adalah “hadiah” dari Gubernur Mesir, Muqauqis. Jadi status sosialnya hamba sahaya, tapi secara syariat sah sebagai istri. Di masa silam, masyarakat Arab menyebut istri seperti itu sebagai ummul walad, ibu si anak.
     Kehadiran Maria  Al-Qibtiyah ternyata membuat para isteri Nabi tidak senang. Menurut mereka, Maria  Al-Qibtiyah tidak patut menjadi istri Nabi, karena ia keturunan budak (hamba sahaya). Namun hal itu langsung dijawab oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya dalam surah At-Tahrim ayat 1, : “ Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu, demi menyenangkan istri-istrimu ?”. Ayat itu juga merupakan ajaran kesetaraan, bahwa Islam tidak membedakan status sosial, etnis dan jenis kelamin.
     Pernah suatu hari Maria  Al-Qibtiyah yang berada jauh dari masjid menemui Nabi Muhammad saw, lalu disuruh masuk ke rumah Hafshah, salah seorang istri Nabi yang sedang pergi ke rumah ayahnya Umar bin Khatthab.
     Ketika pulang Hafshah melihat tabir kamar tidurnya tertutup, dan di dalamnya Rasulullah sedang bersama Maria  Al-Qibtiyah. Melihat itu, Hafshah marah lalu menangis. Rasulullah membujuk Hafshah, dan minta agar Maria  Al-Qibtiyah meminta maaf kepada Hafshah, yang juga diminta  untuk merahasiakan kejadian tersebut.
     Namun, kejadian itu segera terdengar oleh istri-istri Nabi yang lain. Tentu saja Rasulullah marah dan bermaksud menceraikan Hafshah. Tapi Jibril menyarankan agar tetap mempertahankan Hafshah, karena dia adalah wanita yang teguh beriman. Maka Rasulullah pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terutama karena dia menyesali perbuatannya telah memberitahukan kejadian tersebut kepada para istri Nabi yang lain.
     Sebagai pendamping Rasulullah saw, Maria  Al-Qibtiyah adalah wanita yang tabah dan sabar. Betapa tidak, Maria  Al-Qibtiyah yang berparas  cantik jelita dan berperangai lemah lembut, harus menghadapi kehidupan yang keras di negeri asing tanpa seorangpun yang melindunginya, kecuali Allah swt dan Rasulullah saw.
     Pada tahun kedua bersama Rasulullah saw, Maria  Al-Qibtiyah mengandung (hamil). Dan untuk menghindari kecemburuan istri-istri yang lain, Rasulullah saw memindahkan Maria  Al-Qibtiyah ke sebuah rumah di dataran tinggi Madinah yang udaranya cukup segar. Dia ditemani oleh saudaranya Sirin hingga saat melahirkan, yaitu pada bulan Dzulhijjah Tahun ke 8 Hijriyah. Dan di bidani oleh istri Abu Rafi’.
     Ketika Maria  Al-Qibtiyah melahirkan, Rasulullah saw menunggu di ruang lain sambil shalat dan berdoa. Dan ketika istri Abu Rafi’ keluar dari kamar sambil memperlihatkan bayi itu kepada Rasulullah saw. Beliau gembira dan berterima kasih serta menyampaikan rasa hormatnya kepada bidan yang baik budi itu.
Rasulullah saw (shollallahu ‘alaihi wa salam) lalu mengangkat bayi lelaki tersebut dan memberinya nama Ibrahim (Nama datuk tertua bangsa Arab).
     Pada tahun ke 16 Hijriyah, Maria Al-Qibtiyah wafat, ketika itu Rasulullah saw, juga sudah lebih dahulu wafat. Yang menjadi khalifah pada waktu itu adalah Umar bin Khatthab. Istri Rasulullah saw ini Maria  Al-Qibtiyah di makamkan di Baqi’, Makkah.
     Maria  Al-Qibtiyah sebagai Ummul mu’minin (ibu orang-orang mukmin) telah  memberikan keberuntungan dan karunia istimewa dari Allah swt (subhanahu wa ta’ala) dengan melahirkan putra Rasulullah saw, yaitu Ibrahim.



Wa salamun ‘alal mursalin, Walhamdulillahi rabbil ‘alamin

*******
Sumber :

-Al Kisah, Majalah Kisah Islami Tahun 2006