Rabu, 16 Oktober 2013

Rasul Yang Mulia Bersenda-gurau Dengan Para Sahabat


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




          Abu Hurairah ra.(Radhiallaahu anhu) menceritakan: "Para sahabat ber-tanya kepada Rasulullah : "Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?" Rasulullah menjawab: "Tentu, hanya saja aku selalu berkata benar." (HR. Ahmad).

       Namun dalam bersenda-gurau atau bercanda Rasulullah SAW telah memberikan teladan dan adab dalam bercanda kepada para umatnya.
Hal ini dapat di ketahui dari :

'Aisyah Radhiallaahu anha : "Belum pernah aku melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum." (HR. Muttafaq 'alaih)

Dari Abdullah bin Harits bin Jaz'in, ia berkata, "Tidaklah Rasulullah SAW tertawa kecuali hanya berupa senyuman."(HR. Tirmidzi)

        Hadits lain yang menegaskan tentang hal ini adalah, Rasulullah SAW bersabda : Celakalah orang yang mengada-adakan sebuah cerita agar orang lain tertawa, sementara dia berdusta. Celakalah ia.. celakalah ia.” ( HR Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Baihaqi )

        Selanjutnya, ketika  bercanda dengan pasangan kita, jangan mudah untuk menyebut kata cerai, meski hanya sekedar bercanda. Dalam pandangan syariat itu bisa berarti sangat serius konsekuensinya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : “ Tiga hal yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh maka berguraunya pun dinilai sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh, yaitu ; nikah, talak, dan rujuk “ ( HR Abu Dawud ;1920)

       Begitu pula dengan bersenda-gurau yang berlebihan atau keterlaluan terhadap sahabat sesama muslim, Rasul SAW dengan tegas melarangnya.

        Dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, "Sahabat-sahabat Nabi SAW menceritakan padaku bahwa ketika mereka sedang berjalan di waktu malam bersama Rasulullah, seorang di antara mereka tertidur. Lalu seorang temannya beranjak dengan membawa tali kemudian menariknya sehingga orang yang tidur itu terkejut. Melihat hal itu, Nabi SAW bersabda, Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim lainnya.  (HR. Abu Daud)

        Dari Nu’man bin Basyir, dia berkata,: ”kami beserta Nabi dalam suatu perjalanan. Ada seseorang yang mengantuk di atas punggung hewan tunggangannya.lalu ada orang lain yang mengambil anak panah dari kantongnya secara diam-diam, sehingga orang yang mengantuk itu pun bangun dengan gelagapan. Melihat hal itu beliau bersabda,”Tidak diperkenankan bagi seseorang untuk mengagetkan orang muslim.” (HR. Thabrani)

        Dari Yazid, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, : "Janganlah seseorang di antara kalian mengambil perhiasan saudaranya, baik bercanda atau sungguh-sungguh. " Dalam satu riwayat,"...Bercanda atau sungguh-sungguh. Barangsiapa yang mengambil tongkat saudaranya, hendaknya ia mengembalikannya." (HR. Tirmidzi)


      
          Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Baginda Rasul SAW menerima hamba, orang buta, dan anak-anak. Baginda bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi Baginda Rasul SAW tidak berkata kecuali yang benar saja.

        Seorang sahabat bernama Zahir, dia agak lemah daya pikirannya. Namun Rasulullah SAW mencintainya, begitu juga Zahir. Zahir ini sering menyendiri menghabiskan hari-harinya di gurun pasir. Sehingga, kata Rasulullah SAW,: “Zahir ini adalah lelaki padang pasir, dan kita semua tinggal di kotanya”.

       Suatu hari ketika Rasulullah sedang ke pasar, dia melihat Zahir sedang berdiri melihat barang-barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah memeluk Zahir dari belakang dengan erat. Zahir: “Heii……siapa ini?? lepaskan aku!!!”, Zahir memberontak dan menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya Rasulullah.

       Zahir-pun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih mengeratkan pelukan Rasulullah. Rasulullah berkata: “Wahai umat manusia, siapa yang mau membeli budak ini??”
Zahir: “Ya Rasulullah, aku ini tidak bernilai di pandangan mereka”
Rasulullah: “Tapi di pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir. Mau dibeli Allah SWT atau dibeli manusia?” Zahir pun makin mengeratkan tubuhnya dan merasa damai di pelukan Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad dari Anas ra)

        Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis mengingat nasibnya.
       Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)

       Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya.
Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”.
       Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. : “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”.
       Rasulullah menjawab,:  “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta”, Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad shahih)

       Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah pernah bercerita bahwa seorang hamba yang paling terakhir masuk ke dalam surga adalah hamba yang telah keluar dari neraka dengan merangkak.: “Pergilah kamu dari neraka dan masuklah ke dalam surga”. Perintah Allah SWT kepada hamba itu.
      Maka hamba itupun pergi menuju surga. Namun sayangnya, sesampainya di sana, ia mendapati surga telah penuh sesak sehingga ia kembali menghadap Allah SWT.: “Ya Allah, bagaimana aku bisa masuk surga? aku lihat surga telah penuh dengan orang” Keluhnya.
      Mendengar rengekan hamba-Nya, Allah memberikan sebuah penawaran,: “Kalau begitu, kembalilah kamu ke syurga dan Aku akan sediakan tempat untukmu seperti dunia dan sepuluh kali lipat sepertinya”.  Perintah Allah SWT kepada hamba-Nya itu.
      Namun anehnya, hamba itu bukannya senang tetapi malah kembali mengeluh, : “Ya Allah, janganlah Engkau bercanda untuk menghina hamba. Bukankah Engkau adalah Sang Raja?” Kata si hamba itu.
      Maka kemudian Rasulllah berkata bahwa Allah SWT pun tertawa mendengar perkataan hamba itu. Sementara Rasulullah juga tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau seraya menjelaskan bahwa itulah derajat penduduk surga yang paling rendah. (HR. Bukhari dan Muslim)


     
       Shuhaib ra bercerita bahwa ketika berkumpul bersama para sahabat, tiba-tiba Rasulullah tersenyum sehingga membuat para sahabat heran. “Apakah kalian ingin tahu mengapa aku tertawa?” Tanya Rasulullah “Ya, apakah yang membuat Anda tertawa, ya Rasulullah?”.
     “Aku tersenyum karena kagum melihat sikap orang mukmin. Sesungguhnya semua sikapnya adalah baik. Jika ia mendapatkan sesuatu yang disukainya, ia memuji Allah; dan itulah sikap yang baik baginya. Dan jika ia mendapatkan sesuatu yang tidak disukainya, ia bersabar; dan itulah sikap yang baik baginya. Dan tidak semua orang sikapnya baik kecuali orang mukmin”: Jelas Beliau (HR. Ahmad)

      Anas bin Malik juga bercerita, suatu ketika Rasulullah sedang kumpul-kumpul bersama Sahabat, tiba-tiba beliau terlelap sebentar kemudian terjaga sambil tersenyum sehingga membuat para sahabat bertanya-tanya, : “Apa yang membuat Anda tersenyum, ya Rasulullah?” ,Tanya mereka.
      Baru saja diturunkan sebuah surah kepadaku yang berbunyi,:  “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al Kautsar. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus” (TQS. Al Kautsar : 1-3)”. Jawab Rasulullah yang disambut anggukan para sahabat.
    “Apakah kalian tahu apa itu Al Kautsar?” : Tanya beliau lagi. “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu!” : Jawab Sahabat serempak.
   “Sesungguhnya Al Kautsar itu adalah sebuah sungai yang telah dijanjikan oleh Allah kepadaku, di dalamnya terdapat kenikmatan yang sangat banyak. Al Kautsar itu adalah sebuah telaga tempat para umatku minum di hari kiamat nanti, yang bejana-bejananya adalah sebanyak bilangan binatang.
     Tetapi ada seseorang dari mereka yang dilarang untuk meminumnya sehingga aku bertanya, : “Ya Allah, bukankah dia juga termasuk dari umatku?” Maka Allah menjawab, : “Kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu”. Jelas Rasulullah SAW dengan senyum kasih sayang. (HR. Muslim)

      Suatu hari Rasulullah SAW bersama Ibnu Abbas berboncengan dalam satu unta. Ketika akan menaiki unta, beliau tiba-tiba bertakbir (Allahu Akbar) tiga kali, bertahmid (Alhamdulillah) tiga kali, bertasbih (Subhanallah) tiga kali dan bertahlil (La illaha ilallah) satu kali kemudian beliau tertawa, : “Seseorang yang mengendarai kendaraannya lalu membaca seperti yang aku baca tadi, maka Allah pasti akan menghadap kepadanya dan tertawa sebagaimana aku tertawa” Jelas beliau kepada Ibnu Abbas yang tadi merasa heran melihat Rasulullah tertawa. (HR. Ahmad)

      Sahal bin Sa’ad As Saidi bercerita bahwa ia pernah melihat Rasulullah SAW, ketika sedang menggali parit dalam persiapan perang Khandak. Ketika menemui sebuah batu, beliau mengambil cangkul untuk menggempur batu itu dan setelah batu itu hancur beliau tertawa sehingga membuat sahabat penasaran. “Apa yang membuat Anda tertawa, ya Rasulullah?” Tanya Sahabat. “Aku tertawa karena heran melihat sekelompok orang yang ditarik dengan tali pengikat yang sangat kuat dari arah timur menuju ke surga” Jelas beliau SAW. (HR. Ahmad)


     
       Diceritakan oleh Al Abbas bin Mirdas bahwa ketika wukuf di padang Arafah Rasulullah mendoakan seluruh umatnya agar diberikan ampunan dan limpahan rahmat. Allah SWT mengabulkan doa beliau seraya berfirman : “Telah aku kabulkan doamu dan telah Aku ampuni dosa-dosa umatmu, kecuali dosa orang yang berbuat aniaya di antara sesama mereka”.

      Menerima wahyu seperti itu, beliau kembali bermunajat kepada Allah SWT, : “Ya Rabb, sesungguhnya Engkau adalah Maha Kuasa untuk mengampuni dosa orang yang menganiaya dan Maha Kuasa untuk memberi balasan orang yang teraniaya dengan balasan yang lebih baik dari balasan aniayanya”.
      Hanya itulah doa yang dipanjatkan Rasulullah ketika sore di padang Arafah. Lalu ketika beliau sampai di Muzdalifah pada keesokan harinya, beliau berdoa lagi untuk umatnya dan tidak lama kemudian beliau tersenyum. “Apa gerangan yang telah membuatmu tersenyum, ya Rasul?” : Tanya Sahabat.
    “Aku tersenyum melihat Iblis si musuh Allah, ketika ia tahu bahwa Allah telah mengabulkan doa-doaku untuk para umatku dan mengampuni dosa orang yang berbuat aniaya, maka ia jatuh tersungkur sambil berkata kepada dirinya sendiri, ‘Celakalah aku, celakalah aku!’, kemudian dia menghamburkan debu ke kepalanya hingga aku tersenyum melihat ketakutannya” : Jelas Rasulullah (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

        Utsman bin Affan pernah melihat Rasulullah minta diambilkan air wudhu oleh seorang pembantu beliau. Kemudian beliaupun berkumur-kumur, membersihkan hidung kemudian membasuh muka tiga kali, dan pergelangan tangan tiga kali, lalu mengusap kepala dan membasuh kedua kaki, kemudian beliau tertawa, : “Apakah kalian ingin tahu mengapa aku tertawa?”. Tanya Rasulullah kepada para sahabat yang menyaksikan beliau wudhu tadi.
 “Tentu, apakah yang membuat Anda tertawa ya Rasulullah?” : Tanya Para Sahabat.
      “Sesungguhnya jika seorang hamba hendak berwudhu lalu ia membasuh mukanya, maka Allah akan menghapuskan segala kesalahan yang pernah diperbuat oleh mukanya. Dan jika ia membasuh kedua tangannya maka demikian pula balasan Allah SWT. Dan jika ia mengusap kepalanya maka demikian pula balasan Allah. Dan jika ia membasuh kedua kakinya maka demikian pula balasan Allah SWT. Karena rahmat Allah itulah aku tersenyum” : Jelas Rasulullah yang diikuti anggukan para sahabat. (HR. Ahmad)


      
        Dari Anas radliallahu 'anhu berkata : Penduduk Madinah ditimpa kekeringan pada zaman Rasulullah SAW (shallallahu 'alaihi wasallam). Ketika beliau sedang menyampaikan khuthbah pada hari (shalat) Jum'at tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berdiri lalu berkata; "Wahai Rasulullah, binatang ternak semua binasa dan kehidupan telah menjadi sulit, maka berdo'alah kepada Allah agar menurunkan air untuk kita!".   

        Maka Nabi SAW menengadahkan kedua telapak tangan beliau dan berdo'a. Anas berkata; "Saat itu langit bagaikan kaca yang bening lalu datang angin yang menggiring awan, awan itu berkumpul maka langit pun mengirimkan mulut-mulut geribanya (maksudnya hujan deras). Kami kontan keluar (dari masjid) dan tercebur ke dalam air yang banjir sampai kami tiba di rumah-rumah kami dan hujan masih saja terus mengguyur sampai jumat berikutnya.
        Lalu laki-laki tersebut atau orang lain berdiri seraya berkata; "Wahai Rasulullah, rumah-rumah telah menjadi rusak (karena banjir), maka berdo'alah kepada Allah agar menghentikan hujan".
       Maka Nabi SAW tersenyum kemudian bersabda: "HAWAALAINAA WALAA 'ALAINAA "Ya Allah, pindahkanlah hujan di sekitar kami dan jangan Engkau jadikan hujan yang membinasakan kami.". Kemudian aku melihat awan berpencar-pencar di sekitar Madinah bagaikan mahkota di kepala (maksudnya awan berpencar mengelilingi kota Madinah). (HR. Bukhari)

       Dari Abdullah bin Umar katanya, ketika Rasulullah mengepung Thaif, dan beliau sama sekali belum memperoleh hasilnya, beliau berujar: "Besok kita insya Allah pulang." Ucapan Nabi ini memberatkan mereka sehingga para sahabat berujar; "Apakah kita akan pulang dan tidak menaklukkannya?" Abdullah bin Umar adakalanya berujar dengan lafadz; "Kita akan pulang." maka Rasulullah berujar: "Teruslah kalian menyongsong peperangan."
      Para sahabat pun terus berangkat dan mereka peroleh luka-luka. Kata Nabi: "Besok kita insya Allah kita pulang." Ucapan Nabi ini menjadikan para sahabat kagum (sebagai pelipur lara), maka Nabi SAW tertawa. Suatu kali Sufyan mengatakan dengan redaksi; "Nabi tersenyum". Kata Abul Abbas, kata Humaidi, Telah menceritakan kepada kami Sufyan semua beritanya.(HR. Bukhari)

        Dari Sa'ad bin Abu Waqqash RA, dia berkata, : "Pada suatu ketika Umar bin Khaththab pernah meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk bertamu kepada beliau yang saat itu ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara dengan beliau secara panjang lebar dan dengan suara yang lantang. Setelah meminta izin untuk masuk, maka kaum wanita itu segera berdiri dan bersembunyi di balik tirai (hijab).
        Kemudian Rasulullah SAW mempersilahkan Umar masuk sambil tersenyum-senyum simpul. Umar berkata, "Semoga Allah selalu membuat engkau berbahagia dengan senyum simpul di bibir ya Rasulullah!" Rasulullah SAW menjawab, : "Hai Umar, sebenarnya aku sendiri merasa heran dengan kaum wanita yang berada bersamaku tadi. Karena, ketika mereka mendengar suaramu, maka mereka segera bersembunyi. Lalu Umar berkata, : "Sebenarnya engkaulah yang lebih berhak mereka segani."
        Kemudian Umar menoleh ke tabir tempat kaum wanita dan berkata, : "Hai orang-orang yang menjadi musuhnya sendiri, apakah kalian merasa segan kepadaku tanpa adanya rasa segan kepada Rasulullah?"
Kaum wanita Quraisy itu pun menjawab, : "Ya, karena engkau lebih keras dari Rasulullah!"
        Maka Rasulullah SAW pun bersabda, :"Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh tak ada syetan yang berpapasan denganmu di suatu jalan ya Umar, melainkan syetan tersebut akan berpaling ke jalan lain untuk menghindar dari jalanmu." (HR. Muslim)

        Anas bin Malik mengatakan,Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam Pernah menemui Ummu haram binti Milhan yang diperistiri oleh 'Ubadah bin Shamit.
Suatu hari beliau SAW menemuinya dan Ummu Haram memberinya makanan dan mencari kutu di kepalanya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertidur, lantas bangun dan tertawa.
        Kata Ummu Haram; saya bertanya; Apa yang menjadikanmu tertawa ya Rasulullah? “.
 Beliau menjawab: "Sekian orang dari umatku diperlihatkan kepadaku dalam keadaan berperang fii sabiilillah, mereka mengarungi permukaan lautan sebagai raja-raja diatas permadani, -atau dengan redaksi- seperti raja-raja diatas permadani "  - Ishaq ragu kepastian redaksinya.-
       Kata Ummu haram; ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menjadikan diriku diantara mereka? “, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendoakan untuknya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan kepalanya, kemudian bangun dengan tertawa, maka aku(Ummu Haram) bertanya; Apa yang menjadikan dirimu tertawa ya Rasulullah? “. Nabi menjawab; "ada beberapa manusia dari kalangan umatku menjadi pejuang fii sabilillah, " dan seterusnya sebagaimana diatas.
      Ummu Haram berkata; ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menjadikan diriku diantara mereka! “. Nabi bersabda : "Engkau termasuk rombongan pejuang yang pertama." Kemudian Ummu Haram mengarungi lautan di zaman pemerintahan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, dan hewan tunggangannya terpeleset ketika keluar dari lautan, sehingga Ummu haram meninggal. (HR. Bukhari)

      Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, : "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi, lalu berkata, : Celakalah aku wahai Rasulullah!”. lalu beliau bertanya, : Apa yang membuatmu celaka?”. 
      Dia menjawab, : ”Aku telah menggauli isteriku (pada siang hari) di bulan Ramadhan. Rasul bertanya, : Apakah kamu mempunyai sesuatu yang dapat digunakan untuk membebaskan budak?”. Orang itu menjawab, : Tidak.
      Lalu Rasulullah bertanya, : Apakah kamu sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?". Tidak : Jawab lelaki itu.
Beliau bertanya lagi, : Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk memberi makan 60 orang miskin?”. Dia menjawab, : Tidak."
     Abu Hurairah berkata, : Kemudian Nabi SAW duduk, dan tiba-tiba beliau dibawakan sekeranjang kurma. Beliau berkata kepada lelaki itu, :Sedekahlah kurma ini”. Lelaki itu menjawab, : “Kepada orang yang lebih miskin dari kami? Di sekitar sini, tidaklah ada orang yang lebih fakir dari keluarga kami. Beliau tersenyum hingga terlihat gigi surinya dan berkata, :Pergilah dan beri makan keluargamu dengan kurma itu”. (HR. Muslim)

       Dari Auf bin Malik Al Asyja’y, dia berkata,”Sewaktu perang Tabuk aku menemui Rasulullah, yang saat itu beliau sedang berada di dalam sebuah kemah. Aku mengucapkan salam dan beliau membalasnya. “Masuklah!”: sabda beliau. “Apakah aku harus masuk dengan seluruh tubuhku?”. “Ya, masuklah dengan seluruh tubuhmu,” sabda beliau. Maka aku pun masuk ke dalam kemah.” (HR. Abu Daud)



      
        Keisengan juga pernah dilakukan oleh Ali ibn Thallib kepada Rasulullah SAW. Pada suatu ramadhan ketika Nabi dan para sahabat sedang ifthor, Ali secara sengaja mengumpulkan kupasan kulit kurma yang sudah dimakannya lantas diletakkan di tempat kulit kurma Rasulullah SAW yang tengah fokus berbuka shaum.
      Ali kemudian berkata: “Ya Rasulullah, begitu laparnya dikau hingga begitu banyak kurma yang kau makan dari kami.” ,ujar Ali sambil menunjuk tumpukan kulit kurma di depan Rasulullah.
     Rasulullah yang sudah paham akan keisengan Ali segera “membalas”. Sambil senyum dan balas menunjuk tempat kulit kurma Ali yang licin, Sang Nabi lantas berkata : “Siapa sebenarnya yang lebih lapar, aku atau kamu?” (HR. Bukhari).
Kalau dalam bahasa kita: Ali lapar banget sih
kamu, sampai-sampai kulit kurma aja di makan juga hingga tak ada lagi sisa kulit kurma (licin piringnya).

     Qutaibah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi'ah menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Al Mughirah, dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz'u, ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW." (HR. Tirmidzi)

    Jabir bin Abdullah Radhiallaahu anhu mengungkapkan: "Sejak aku masuk Islam, setiap kali Rasulullah berpapasan denganku atau melihatku, beliau pasti tersenyum." (HR. Al-Bukhari)

     Abdullah bin Al-Harits Radhiallaahu anhu menuturkan: "Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah ." (HR. At-Tirmidzi)


*******

Sumber :
-Islamic Libraries for Moslems

-Islamic World Encyclopedia