Minggu, 13 Oktober 2013

Ketika Rasul Yang Mulia Bercanda dengan Isterinya


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ





      Rasulullah SAW juga menunjukkan perhatian dan kemesraan kepada isterinya Aisyah ketika meminum. Rasulullah meminum dari gelas yang sama dengan Aisyah dan meminum di bekas tempat Aisyah meminum. Begitu yang diceritakan Imam Muslim dalam haditsnya.
     Begitu juga ketika mandi bersama, kadang Rasulullah SAW menunjukkan candanya. Bercanda dengan istri atau suami insya-Allah SWT membawa kepada kebaikan dan langgengnya perasaan cinta antara keduanya.
Begitu dekatnya hubungan Rasulullah SAW dengan istrinya, sehingga beliau dapat mengenali kapan Aisyah marah dan kapan Aisyah ridha hanya dari perbedaan raut muka, ketika berbicara kepada Rasulullah SAW. Padahal Aisyah tidak menampak-nampakkan emosinya.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda kepada ‘Asiyah, :“Aku tahu saat kamu senang kepadaku dan saat kamu marah kepadaku.”
Aisyah bertanya, : “Dari mana engkau mengetahuinya?”
Beliau SAW menjawab, ” Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu “Tidak demi Tuhan Muhammad”.
Akan tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah,: “Tidak demi Tuhan Ibrahim!”.
Aisyah pun menjawab,: “Benar, tapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja” (HR Bukhari dan Muslim)
       Aisyah RA berkata,: “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, saat itu tubuhku masih ramping”. Beliau lalu berkata kepada para sahabat beliau,: ”Silakan kalian berjalan duluan!” Para sahabat pun berjalan duluan semua. Kemudian beliau SAW berkata kepadaku,: “Marilah kita berlomba.” Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata aku dapat mendahului beliau dalam berlari.
      Beberapa waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan : ”Beliau SAW lama tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan kejadian itu.”
Suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau. Beliau pun berkata kepada para sahabatnya : “Silakan kalian berjalan duluan.” Para sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu.
      Kemudian beliau SAW berkata kepadaku : “Marilah kita berlomba.” Saat itu aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini badanku sudah gemuk. Aku berkata,: “Bagaimana aku dapat mendahului engkau, wahai Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini?”
Beliau berkata, “Marilah kita mulai.” Aku pun melayani ajakan berlomba dan ternyata beliau mendahului aku. Beliau SAW tertawa seraya berkata,: ” Ini untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang dulu.” (HR Ahmad dan Abi Dawud)
     Ketika rumah diwarnai dengan kehangatan, penerimaan, perhatian, dan kasih- sayang, maka ia menjadi surga bagi penghuninya. Rumah memberi arti kedamaian dan keteduhan. Dan ada keindahan yang lebih dari itu yaitu keceriaan wajah yang mendiaminya sebagai cermin kebahagiaan hati. Tatapan mata suami yang penuh kasih sayang kepada isteri mengisyaratkan cinta yang dalam, begitu pula sebaliknya. Jika seorang isteri memandang wajah suaminya dengan ceria dan penuh kasih sayang.
    “Banyak orang yakin bahwa ekspresi yang ada dalam pandangan seseorang dapat mengungkapkan isi hati seseorang,” : kata Ruqayyah, “Pasti, pandangan kekasih adalah hal yang paling menyenangkan dan menenteramkan. Banyak kaum istri yang mendambakan pandangan semacam itu, sekalipun mereka sudah menikah selama bertahun-tahun.”
    “Jika Anda tak dapat membuat diri Anda untuk memandang dan memperhatikan istri Anda,” : kata Ruqayyah lebih lanjut, : “maka baginya itu adalah tanda bahwa Anda tak benar-benar mencintainya. Walaupun tidak menyenangkan dan tampak berlebihan, banyak wanita merasa tersentuh sekali jika seorang laki-laki benar-benar mengucapkan bahwa ia mencintainya.”
     Rasulullah SAW kadang memanggil Aisyah dengan sebutan ‘humaira’ (wanita yang pipinya bersemu merah). Ini merupakan panggilan mesra seorang suami kepada istrinya.
    Ungkapan cinta merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang isteri. Mungkin Anda benar-benar mencintainya. Meskipun demikian, jika tidak pernah di ungkapkan melalui kata-kata mesra, cinta itu bisa terasa hambar baginya. Begitu juga pandangan mata yang penuh kasih sayang dapat menggembirakan hati isteri.
Abdullah bin Al-Harits Radhiallaahu anhu menuturkan: "Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah ." (HR. At-Tirmidzi)
    Dari Aisyah ra, ia berkata :Rasulullah berada di tempatku bersama Saudah, lalu aku membuat jenang. Aku bawa (jenang itu) kepada beliau, kemudian aku berkata pada Saudah :
“Makanlah !” Akan tetapi, ia menjawab :
“Saya tidak menyukainya.”
Aku pun berkata : “Demi Allah, kamu makan atau aku oleskan ke wajahmu ?”
Ia berkata : “Saya tidak berselera memakannya.”
(Kata Aisyah) :
     Lalu aku ambil sedikit, kemudian aku oleskan ke wajahnya,
sedangkan Rasulullah SAW ketika itu duduk di tengah-tengah antara aku dan dia.
Kemudian beliau merintangi dengan lututnya supaya dia dapat membalasku, lalu ia mengambil jenang dari piring tersebut, kemudian dia (Saudah) membalas mengoleskannya kepadaku dan Rasulullah SAW tertawa.(HR Ibnu Najjar)
      Abdullah bin Abbas berkata, suatu ketika Rasulullah sedang berada di salah satu rumah istrinya untuk istirahat. Beliau menyandarkan kepala dan kemudian tertidur pulas. Anehnya di tengah-tengah tidur, beliau tiba-tiba tersenyum sehingga membuat istrinya itu heran.: “Ya Rasulullah, aku lihat tadi Anda tersenyum ketika sedang tidur, apa yang terjadi?” Tanya istrinya ketika beliau terbangun.: “Aku kagum melihat sekelompok umatku yang berlayar di lautan hendak berjuang di jalan Allah telah membuat musuh mereka menjadi ketakutan”. Jelas beliau sambil tersenyum kagum dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. (HR. Ahmad)

     Dari Ibnu Suad, beliau meriwayatkan Saudah berkata pada Rasulullah SAW (Shallallahu ‘Alaihi Wassalam) :
“Tadi malam aku mengerjakan shalat dibelakangmu,
kemudian engkau ruku’ denganku hingga aku menahan hidungku karena khawatir darah mengucur.” Rasulullah SAW pun tertawa.      
Dalam berbagai kesempatan, Saudah membuat Rasul SAW tertawa dengan sesuatu. ( Ath-Thobaqot)
     Kebutuhan untuk mendengar dan didengarkan merupakan sesuatu yang penting, termasuk mendengar perkataan cinta suaminya. Seorang isteri mempunyai kebutuhan untuk didengar perasaannya. Ia butuh ada orang yang mau menerima ceritanya, tentang kelelahannya, tentang kecemasannya menunggu suami pulang , dan isyarat-isyarat yang diberikannya.
     Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya kepada Aisyah :“Apa ini ?”
Aisyah menjawab : “Anak-anak perempuan (boneka perempuan) ku.”
Beliau bertanya lagi : “Apakah yang di tengah ini ?”
Aisyah menjawab : “Kuda.”
Beliau bertanya lagi : “Dan apa yang ada di atasnya ini ?”
Aisyah menjawab : “Itu dua sayapnya.”
Beliau bertanya lagi : “Kuda yang mempunyai dua sayap ?” 
Aisyah menjawab dengan nada tanya : “Apakah engkau tidak mendengar bahwa Sulaiman bin Dawud mempunyai kuda yang memiliki beberapa sayap ?”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tertawa hingga tampak gigi serinya.
( HR Abu Dawud)
     Kecemburuan suami atau isteri terhadap pasangannya menandakan rasa cinta dan kasih sayang atas pasangannya.
Dari Umar ra., bahwa ia menemui Hafshah dan berkata,: "Wahai anakku, janganlah kamu sampai terperdaya. Wanita inilah yang memang membuatnya cinta Rasulullah SAW takjub lantaran kecantikan wajahnya." Maksudnya adalah Aisyah. Lalu aku pun menceritakannya pada Rasulullah SAW, dan beliau pun tersenyum. (HR. Bukhari)
     Bahkan menjelang wafat, Nabi Muhammad SAW pun sempat-sempatnya bercanda. Ketika itu demam nabi semakin tinggi. Ia lantas menyandarkan kepalanya ke pangkuan paha Aisyah. Demi merasakan suhu badan Nabi yang panas, Aisyah langsung berseru cemas :    “ Aduh…!”
Lagi-lagi sambil tersenyum, Nabi SAW bilang ke Aisyah:
“Sepertinya yang akan dipanggil Allah duluan kamu ya, karena aku yang merasakan sakit malah kamu yang mengaduh?” candanya. Subhanallah... wahai pemilik Akhlakul Karimah.

Rasulullah SAW dalam bercanda tidak pernah tertawa terbahak-bahak sampai lupa diri. Namun Beliau tertawa dan tersenyum yang tidak berlebih-lebihan dalam bercanda hal-hal yang lucu.
'Aisyah Radhiallaahu anha, berkata : "Belum pernah aku melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum." (HR. Muttafaq 'alaih)

Dari Abdullah bin Harits bin Jaz'in, ia berkata, "Tidaklah Rasulullah SAW tertawa kecuali hanya berupa senyuman."(HR. Tirmidzi)



     Agama Islam ini bahkan menilai canda suami-istri sebagai perbuatan di luar dzikrullah yang tidak termasuk kesia-siaan.
Rasulullah Saw. bersabda, “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid).









*******
Sumber :

-Islamic Libraries for Moslems