Jumat, 04 Oktober 2013

Baju Gamis Rasulullah yang Mulia




         Pernah suatu ketika Bilal bin Rabbah,ra. mengumandangkan adzan untuk sholat berjama’ah Di masjid Nabawy, Madinah. Para sahabat menunggu Rasulullah SAW datang untuk mengimami shalat fardhu berjama’ah. Suasana di masjid Nabawy begitu khidmat, tenteram dan menyenangkan bathin.
     Sang muadzin Bilal, ra. beberapa kali menengok ke jendela dan pintu rumah Rasulullah yang bersebelahan dengan masjid, untuk meyakinkan bahwa Nabi SAW akan datang untuk sholat bersama-sama. Namun begitu lama Nabi SAW belum muncul juga ke masjid, sehingga para sahabat berperasangka baik, mungkin Rasulullah SAW sedang melakukan sesuatu, sehingga kedatangannya tidak seperti biasanya.
     Namun lama ditunggu, Rasulullah belum muncul juga. Biasanya bila terdengar suara adzan Bilal,ra. Nabi SAW segera hadir ke masjid. Kali ini terasa agak lama para sahabat menunggu Rasulullah datang. Ada apakah gerangan sebabnya?
     Ternyata, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir,ra. bahwa Rasulullah SAW tidak segera pergi ke masjid karena beliau tidak memiliki gamis / baju panjang, untuk shalat.
     Masya Allah SWT..! kita mungkin heran, mengapa Rasulullah SAW sebagai seorang pemimpin yang mempunyai beratus-ratus sahabat sebagai pengikut setia yang bersedia melakukan apapun untuknya, sampai tidak memiliki baju gamis. Tentu saja hal seperti ini zaman sekarang hampir tidak ada pemimpin yang tidak memiliki baju, tetapi untuk Rasulullah SAW, hal itu terjadi.
    Ternyata di Dalam hadits Jabir,ra. disebutkan, ketika Rasulullah sedang duduk, datanglah seorang anak kecil, dan berkata kepadanya, :”Ibuku memohon kepada Tuan agar ia diberi gamis.”
Rasulullah menjawab : “Tunggulah sampai barang itu ada dan kamu boleh datang kembali.”
     Anak kecil tersebut lalu pulang ke rumahnya dan menceritakan perkataan Rasulullah kepada ibunya.”
     Ibunya berkata : “Kembalilah kamu pada Rasulullah SAW, katakan kepada beliau bahwa ibu meminta gamis yang dipakainya.”
     Maka anak itu datang lagi menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan permohonan ibunya.
     Mendengar hal itu, Rasulullah SAW masuk ke kamarnya, menanggalkan gamis yang dikenakannya, dan memberikannya kepada anak kecil itu, lalu beliau duduk tanpa baju. Pada waktu itulah Bilal,r.a. mengumandangkan adzan dan kemudian bersama para sahabat menanti kedatangan Nabi SAW.
     Setelah kejadian itu diketahui para sahabat, barulah salah seorang di antara mereka memberikan baju kepada Nabi SAW. Sehingga mereka dapat sholat berjama’ah bersama Nabi yang mulia dan pemurah, Rasulullah SAW.



     Riwayat lain tentang kepemurahan hati Rasulullah SAW, yang masih berkaitan dengan gamis atau baju.
Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW, membawa baju dan berkata : ”Wahai Rasulullah, aku ingin menghadiahkan baju ini untukmu.”
Rasulullah menerima baju tersebut dan memakainya. Pada saat itu memang beliau sedang memerlukannya.
     Kemudian salah seorang sahabat yang mengetahuinya berkata :”Wahai Rasulullah, Alangkah bagusnya baju ini. Berikanlah kepadaku!.” Nabi SAW menjawab : ”Ya, baiklah.”
     Setelah Rasulullah SAW pergi dari tempat tersebut, sahabat yang lain menegur orang yang meminta baju itu : “Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa Rasulullah SAW memerlukan baju itu, dan bila ada seseorang yang meminta sesuatu, beliau tidak akan menolaknya.”
     Dari riwayat-riwayat tersebut di atas, Sungguh sangat pemurah sifat Rasulullah SAW, nabi yang mulia akhlaknya.
     Di dalam kitab suci Al-Qur’an di Surah Ali Imran ayat 92, Allah SWT berfirman yang artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, Sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Maha Benar Allah SWT dengan segala firman-Nya.


Wa billahi taufiq wal hidayah, walhamdulillahi Robbil’Alamiin

*******
Sumber :

-ALKISAH No.04/12-25 PEB.2007.