Jumat, 13 September 2013

Syeikh Ahmad Yassin (1936 – 2004 M) : Tokoh Pejuang Palestina Melawan Zionis Israel


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



     Syeikh Ahmad Yassin lahir pada bulan Juni tahun 1936 di Palestina. Tahun 1948, ketika zionis mendeklarasikan berdirinya Israel, bersama keluarga Yasin mengungsi ke Gaza. Sejak saat itu dia rajin belajar dan bekerja. Dalam suatu insiden Ahmad Yasin cedera dan menderita kelumpuhan. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menyelesaikan pendidikan.

     Salah satu tempat Syeikh Ahmad Yasin belajar adalah Universitas Ain Syams di Mesir. Kepiawaiannya dalam berorasi dan kecenderungannya kepada gerakan Islam Ikhwanul Muslimin membuatnya berada dalam kejaran pihak keamanan Mesir selama beberapa tahun. Diapun pernah tertangkap dan dijebloskan ke penjara.

     Setelah perang Arab-Israel tahun 1967 dan negara-negara Arab menelan kekalahan telak, Syeikh Ahmad Yasin meninggalkan bangku sekolah dan kembali ke Gaza. Melalui mimbar-mimbar masjid, dia menyeru rakyat untuk bangkit berjuang. 


     Selain terjun dalam kegiatan kemasyarakatan dan kebudayaan, dia juga aktif menggalang bantuan bagi keluarga syuhada dan para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

     Selanjutnya, Syeikh Ahmad Yasin mendirikan organisasi bernama al-Mujtama' al-Islami di Gaza. Kegiatannya dianggap berbahaya oleh rezim Israel. Diapun ditangkap pada tahun 1982 dan divonis 13 tahun penjara. Tiga tahun berikutnya dalam proses pertukaran tahanan, Syeikh Ahmad Yasin pun bebas.

     Tahun 1987, bersama rekan-rekan seperjuangannya, dia membentuk organisasi perjuangan Palestina dengan nama Harakah Muqawamah Islamiyah atau Gerakan Perlawanan Islami yang disingkat Hamas. 

     Dalam intifada Masjidul Aqsa, Hamas memainkan peran kunci dalam memobilisasi perlawanan lewat masjid-masjid. Syeikh Ahmad Yasin adalah pendiri sekaligus pemimpin spiritual Gerakan Perlawanan Islami Palestina (Hamas).


    
     Meski lebih memusatkan kegiatan dalam perjuangan sosial dan budaya, Hamas juga membentuk sayap militer yang bertugas melakukan perjuangan bersenjata bawah tanah melawan rezim Zionis. Akibatnya, Syeikh Ahmad Yasin sebagai pemimpin Hamas menjadi sasaran utama serangkaian aksi teror.

     Banyak rekan seperjuangan tokoh ini yang sudah terlebih dulu dibunuh oleh regu-regu teror Israel. Tahun 1989, Syeikh kembali ditangkap dan mendekam di penjara selama delapan tahun.

     Tahun 1997, setelah bebas, Syeikh Ahmad Yasin melanjutkan kembali perjuangannya. Menurutnya, Israel harus dilawan dan berunding dengan rezim ini hanya tindakan yang sia-sia.


    
Foto yang langka dan unik asy-syahid Ahmad Ja’bariy (Komandan Militer Hamas) membawa asy-syahid syaikh Ahmad Yasin (Duduk di kursi roda, Pendiri HAMAS), “syahid membawa syahid” .. inilah foto dua orang syuhadaa’ insya Allah

     Pejuang tua yang lumpuh dan duduk di kursi roda itu menjadi sasaran teror Israel pada subuh tanggal 22 Maret 2004. Setelah menunaikan shalat subuh, Syeikh Ahmad Yasin yang menjadi simbol perjuangan Palestina menjadi sasaran serangan tiga roket yang ditembakkan oleh helikopter zionis Israel jenis Apache. Pemimpin Hamas ini gugur syahid bersama delapan orang yang menyertainya.

     Akhirnya guru, pemimpin dan pejuang besar ini gugur syahid dalam sebuah serangan teror pada dini hari tanggal 22 Maret 2004 dalam usia 68 tahun. Dalam prosesi pemakaman sang syahid, ribuan warga Palestina meneriakkan tentang pembalasan atas darah para syuhada Palestina, khususnya Syeikh Ahmad Yasin.


   
     Sebagai seorang Qiyadah/pemimpin, Syeikh AhmadYasin tidak cinta dunia, tidak gila harta, bahkan kehidupannya sangat sederhana. Mariyam, anak Syeikh Ahmad Yasin menceritakan tentang sikap hidup ayahnya :
“Rumah ayah terdiri dari 3 kamar dengan jendela yang sudah rapuh. Rumah ini sangat sederhana sekali. Ini fakta bahwa ayahku tak cinta dunia, namun cinta akhirat. Banyak yang menawari beliau untuk memiliki rumah seperti pejabat tinggi negara, namun ditolaknya. Bahkan pernah suatu ketika, Pemerintah Otoritas Palestina memberi sebuah rumah besar di suatu kampung mewah di Gaza. Namun Tawaran itupun di tolak, ia tidak peduli dengan berbagai ragam bentuk kesenangan duniawi.”
“Rumah ini sangat sempit. Tidak ada lantai, dapurpun ala kadarnya. Jika musim dingin, kami kedinginan. Namun jika musim panas tiba, kami pun kepanasan. Ayah sama sekali tidak memikirkan untuk merenovasi rumahnya. Ia justru sibuk mempersiapkan rumah di akhiratnya.  Adapun kondisi psikis, Alhamdulillah, kami cukup sabar, karena kami percaya. Insya Allah, kami akan melihatnya lagi di surga-Nya nanti. Untuk itulah kami juga sangat berharap bisa mati syahid seperti beliau.”
     Syekh Ahmad Yasin memiliki iman dan perasaan yang tinggi, beliau sangat cinta dan peduli kepada umat yang pada hakekatnya adalah umat Nabi Muhammad SAW.

*******

Sumber :
- Suhail Sufian
- indonesian.irib.ir
- H. Ferry Nur, S.Si, Ketua Kispa