Senin, 02 September 2013

Sebuah Riwayat Singkat Tentang : Imam Khomeini Sang Pendiri Negara Republik Islam Iran


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ





         Imam Khomeini atau Sayyid Musawi dilahirkan pada tahun 1278 H (1900 M) di Provinsi Khomein (dahulu dikenal sebagai Provinsi Kamareh), bertepatan dengan hari ulang tahun kelahiran Fatimah az-Zahrah (20 Jumadil Akhir), puteri Rasulullah Muhammad saw.

       Ayah beliau, Sayyid Mustafa, adalah seorang ulama besar yang dicintai rakyat dan wafat pada bulan Zulhijjah atau 19 September 1902. Sayyid Mustafa meninggalkan tiga orang puteri dan tiga putera. Imam Khomeini adalah yang bungsu.

       Pada usia 15 tahun, ibunya meninggal dunia, demikian pula bibi yang mengasuh beliau. Sejak masa kanak-kanak, Imam Khomeini mulai belajar menulis dan membaca di rumah. Kemudian, beliau masuk ke suatu sekolah yang baru saja didirikan dan di situ beliau belajar dengan sungguh-sungguh. Sebelum genap berusia 15 tahun, beliau telah mahir bahasa Persia, kemudian mulai belajar pengantar ilmu-ilmu pengetahuan Islam dari abangnya, Ayatullah Pasadindeh.

       Sesudah itu, Imam Khomeini pergi ke Arak, lalu ke Qum. Di sini beliau belajar pada Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi. Pada tahun 1922 beliau menyelesaikan tingkat pelajaran tertinggi seraya membantu Syaikh Hairi mengajar.

      Ketika Syaikh Hairi meninggal (tahun 1937), Imam Khomeini telah termasuk salah seorang tokoh ulama terkemuka dan dikenal sebagai seorang alim yang jenius. Selain pengetahuannya yang luas di bidang hukum, beliau juga dikenal sebagai seorang yang alim dalam pengetahuan falakiyah, falsafah umum, falsafah tradisional, dan irfan (tasawuf). Gurunya di bidang falakiyah / astronomi adalah Ali Akbar Yazdi, sedangkan dalam falsafah umum, falsafah tradisional, dan irfan / tasawuf adalah Muhammad Ali Shahabadi.

       Imam Khomeini memiliki dua anak laki-laki dan tiga perempuan. Putera beliau yang tertua, Ayatullah Sayyid Mustafa Khomeini, mati syahid pada tanggal 23 Oktober 1977 melalui pembunuhan misterius (operasi intelijen) yang dilakukan oleh agen-agen pemerintahan despotik Syah Reza Pahlevi.
     
 Dalam menggerakkan Revolusi Islam, ciri khas kepemimpinan Imam Khomeini adalah bersifat langsung, dalam pengertian bahwa peristiwa-peristiwa pada permulaan revolusi itu berhubungan langsung dengan beliau secara pribadi. 
    .
  Pada mulanya Imam Khomeini diasingkan ke Turki, kemudian ke Irak. Selanjutnya Imam Khomeini telah diusir dari Irak, tepatnya pada bulan Oktober 1978. Tentu saja pengusiran ini tidak terlepas dari hasil kesepakatan antara rezim Syah dan rezim Ba’ath (Irak).

     Menarik dicermati, menyikapi kejadian ini, Imam Khomeini mempertimbangkan sejumlah negeri sebagai alternatif untuk mengungsi. Sebenarnya, beliau lebih suka tinggal di suatu negeri Muslim, seperti telah dinyatakannya secara terbuka. Tetapi, tidak ada satu pun negeri Muslim yang memberikan peluang kepada beliau untuk tinggal dengan aman dan sekaligus memberikan kesempatan bagi terselenggaranya kegiatan-kegiatan beliau.

   Karena dihadapkan pada ketidakmungkinan mendapatkan perlindungan dari negeri-negeri Muslim mana pun setelah diusir dari Irak, maka Imam Khomeini pergi ke Paris (Perancis), di mana dari sana beliau masih dapat dengan mudah berhubungan dengan para pendukungnya, baik itu yang ada di Amerika Serikat, Eropa, dan tentu saja Iran.

     Dari Paris, komunikasi-komunikasi dengan Iran jauh lebih mudah ketimbang dari Najaf. Di sini (Paris) pula beliau lebih mudah dihubungi pers dunia, bahkan oleh para wartawan yang anti Imam dan secara intelektual maupun emosional (mental) tidak bersedia merefleksikan amanat dan aspirasi-aspirasi Imam Khomeini.

     Pada bulan Januari 1978, pers yang dikuasai pemerintah menerbitkan satu artikel yang memfitnah Imam dengan dibumbui istilah-istilah keji dan kotor. Artikel tersebut segera mendapatkan reaksi besar dan langsung membangkitkan kemarahan rakyat, terutama di kota Qum. Setelah kebangkitan awal di kota Qum itu  yang menelan korban jiwa cukup besar, segera timbul serangkaian demonstrasi di seluruh Iran dengan intensitas yang semakin meningkat.

  Sekadar catatan, pada tahun 1978 telah terjadi pembunuhan terhadap murid-murid sekolah agama di Qum, Tabriz, dan kota-kota lainnya. Dan pada tanggal 8 September 1979 terjadi lagi pembantaian yang intensitasnya semakin meningkat hingga tanggal 11 Februari 1979. Ini mengakibatkan 100.000 orang mati syahid dan 60.000 orang cedera.

  Sehingga, pada bulan Desember 1978, terjadilah demonstrasi terdahsyat dan terbesar bukan saja dalam sejarah Iran, tetapi juga dalam sejarah (dunia) modern. Keadaan ini memaksa Syah Reza Pahlevi lari terbirit-birit mengasingkan diri ke luar negeri, yang kemudian membuka jalan bagi kemenangan Revolusi Islam.



    Imam Khomeini kembali dari pengasingannya (Paris) ke Iran pada tanggal 1 Februari 1979. Tanpa dukungan pendanaan dari sumber pendapatan yang handal, partai poliltik, kekuatan asing mana pun, dan tanpa melancarkan aksi-aksi perang gerilya, Imam meneguhkan diri sebagai pemimpin sejati yang patut dipercaya  dari satu gerakan revolusi besar dan luhur.

     Dan Imam Khomeini dapat mengelola semua situasi itu dengan memukul balik gerakan Syah Reza Pahlevi melalui sebuah Revolusi Islam yang ditopang oleh kekuatan rakyat dan berkarakter Ilahiah, yang akhirnya mampu menjungkirkan Syah dari kursi singgasana kerajaan.


     Ringkasnya, kemenangan Revolusi Islam di bawah kepemimpinan Imam Khomeini merupakan pencapaian cita-cita luhur rakyat Iran yang telah lama mendambakan hadirnya pemerintahan yang baik dan adil berdasarkan Al-Qur’an (Islam), yaitu dengan terbentuknya negara Republik Islam Iran pada tahun 1979.

*******

Sumber :

Dikutip dan diedit dari Majalah Yaum Al-Quds, No 10, Zulqaidah 1403 H oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional — Forum SPTN, Jakarta