Selasa, 10 September 2013

Habib Alwi bin Al-Quthub Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi : Ayah dari Habib Anis Al-Habsyi Kota Solo


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




       Habib Alwi Al-Habsyi adalah anak bungsu Al Quthub Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy Shohibul Simtud Durar / Maulid Habsyi. 
     Nasab Beliau: Habib Alwi bin ‘Ali bin Muhammad bin Husein bin ‘Abdullah bin Syeikh bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Ahmad Shohib asy-Syi’ib bin Muhammad Asghar bin ‘Alwi bin Abu Bakar al-Habsyi bin ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadullah bin Hasan at-Turabi bin ‘Ali bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidullah bin al-Muhajir Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad an-Naqib bin ‘Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zain al-‘Abidin bin Hussin as-Sibth utera kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah SAW.
      Betapa sedihnya Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Pada saat beliau berusia 22 tahun, beliau ditinggal wafat ayahnya Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shohibul Simtud Durar), pada tahun 13331 H / 1913 M di kota Seiwun, Hadramaut, Yaman.
      Habib Alwi adalah anak bungsu, yang paling disayang oleh Habib Ali Al-Habsy. Begitu juga, Habib Alwi pun begitu menyayangi ayahnya, sehingga dirinya bagaikan layangan yang putus benangnya, ketika harus berpisah dari ayahnya.
Hababah Khadijah, kakak sulungnya, yang terpaut 20 tahun, merasakan kesedihan adiknya yang telah diasuhnya sejak kecil. Daripada hidup resah dan gelisah,
maka Habib Alwi disarankan untuk berkunjung ke Jawa, menemui kakaknya yang lain, Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi di Betawi.
     Habib Alwi pergi ke Jawa ditemani Salmin Douman, santri senior Habib Ali Al-Habsyi, sekaligus sebagai pengawal. Beliau meninggalkan istri yang masih mengandung di Seiwun, yang tak lama kemudian melahirkan, dan anaknya diberi nama Ahmad bin Alwi Al-Habsyi.
     Kabar kedatangan Habib Alwi telah menyebar di Jawa, karena itulah banyak murid ayahnya ( Habib Ali Al-Habsyi ) di Jawa menyambutnya, dan menanti kedatangannya di kota masing-masing.
     Pertama kali Habib Alwi tinggal di Betawi beberapa saat. Kemudian beliau ke Garut, Jawa Barat, menikah lagi. Dari wanita ini lahir Habib Anis dan dua adik perempuan. Lalu, beliau pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Disana beliau menikah lagi, dianugerahi banyak anak, dan yang sekarang masih hidup adalah Habib Abdullah dan Fathimah.
     Selanjutnya beliau pindah lagi ke Jatiwangi, Jawa Barat, dan menikah lagi dengan wanita setempat. Dari perkawinan itu, beliau memiliki enam anak, tiga lelaki dan tiga perempuan. Di antaranya adalah Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi serta Habib Fadhil bin Alwi Al-Habsyi yang meninggal pada akhir Agustus tahun 2006.
     Akhirnya, Habib Alwi pindah ke Solo, Jawa Tengah. Pertama kali, Habib Alwi sekeluarga tinggal di Kampung Gading, di tempat seorang raden dari Kasunan Surakarta.
     Kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari Habib Muhammad Al-Aydrus ( kakek Habib Musthafa bin Abdullah Al-Aydrus, Pemimpim Majlis Dzikir Ratib Syamsisy Syumus ), seorang juragan tenun dari kota Solo, di Kampung Gurawan.
     Pemberian tanah wakaf itu dengan ketentuan, yaitu untuk : didirikan masjid, rumah, dan halaman di antara masjid dan rumah. Masjid tersebut didirikan pada tahun 1354 H / 1934 M.
     Habib Ja’far Syaikhan Assegaf mencatat tahun selesainya pembangunan Masjid Riyadh itu dengan sebuah ayat 14 surah Shaf (61) di dalam al-Qur’an, yang huruf-hurufnya berjumlah 1354. ayat tersebut, menurut Habib Ja’far yang meninggal di Pasuruan 1374 H / 1954 M ini, sebagai pertanda bahwa Habib Alwi akan terkenal dan menjadi khalifah pengganti ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
     Sementara rumah di Gurawan itu lebih dahulu berdiri dan halaman yang ada kini disambung dengan masjid dan rumah menjadi ruang Zawiyah ( pesantren ) dan sering digunakan untuk kegiatan haul, Maulid, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
     Struktur ruang Zawiyah ini seperti Raudhah, taman surga di dunia, yaitu ruang antara kamar Nabi saw dan masjid Nabawi. Sekarang bangunan bertambah dengan bangunan empat lantai yang oleh sementara kalangan disebut Gedung Al-Habsyi.
     Tentang rumah Habib Alwi di Solo tersebut, Syekh Umar bin Ahmad Baraja’, seorang guru di Gresik, pernah berkata bahwa, rumah Habib Alwi Al-Habsyi di Solo seakan Ka’bah, yang dikunjungi banyak orang dari berbagai daerah. Ucapan ulama ini benar. Sekarang, setiap hari rumah dan masjidnya dikunjungi para habib dan muhibbin dari berbagai kota untuk tabarukan atau mengaji.
     Habib Alwi telah memantapkan keberadaannya di Solo. Masjid Riyadh dan Zawiyahnya semakin ramai dikunjungi orang. Beliau tidak saja mengajar dan menyelenggarakan kegiatan keagamaan sebagaimana dulu ayahnya di Seiwun, Hadramaut. Namun beliau juga memberikan terapi jiwa kepada orang-orang yang hatinya mendapat penyakit.
     Ketika di Surabaya, bertempat di rumah Salim bin Ubaid, diceritakan Habib Alwi didatangi seseorang dari keluarga Chaneman, yang mengeluhkan keadaan penyakit ayahnya dan minta doa’ dari Habib Alwi. Beliau mendoa’kan dan menganjurkannya untuk memakai cincin yang terbuat dari tanduk kanan kerbau yang berkulit merah. “Insya Allah. Penyakitmu akan sembuh.” Kata Habib Alwi waktu itu.
     Tahun 1952, Habib Alwi melawat ke kota-kota di Jawa Timur. Kunjungannya disertai Sayyid Muhammad bin Abdullah Al-Aydrus, Habib Abdul Qadir bin Umar Mulachela ( ayah Habib Husein Mulachela ), Syekh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin Abdul Deqil dan Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf ( ayah Habib Taufiq Assegaf, Pasuruan ), yang kemudian mencatatnya dalam sebuah buku yang diterjemahkan Habib Novel bin Muhammad Al-Aydrus berjudul Menjemput Amanah.
     Perjalanan rombongan Habib Alwi ke Jawa Timur itu berangkat tahun 1952. Tujuan utama perjalanan tersebut adalah mengunjungi Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf di Gresik. Namun beliau juga bertemu Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad di Jombang, Habib Ja’far bin Syeikhan di Pasuruan dan ulama lainnya.
     Setahun setelah kepergiannya ke Jawa Timur, pada tahun 1953 Habib Alwi pergi ke kota Palembang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Namun, di kota itu, beliau menderita sakit beberapa saat.

     
     Seperti mendapat firasat bahwa saat kematiannya semakin dekat, beliau memanggil Habib Anis, anak lelaki tertua yang berada di Solo. Dalam pertemuan itu beliau menyerahkan jubahnya dan berwasiat untuk meneruskan kepemimpinannya di Masjid dan Zawiyah Riyadh di Solo. Habib Anis, yang kala itu berusia 23 tahun, dan baru berputra satu orang, yaitu Habib Husein, harus mengikuti amanah ayahnya.

     “Sebetulnya waktu itu Habib Anis belum siap untuk menggantikan peran ayahnya. Tetapi karena menjunjung amanah, wasiat itu diterimanya. Jadi dia adalah anak muda yang berpakaian tua.” Tutur Habib Ali Al-Habsyi, adik Habib Anis dari lain ibu.
     Akhirnya Habib Alwi Al-Habsyi wafat pada bulan Rabi’ul Awal 1373 H / 27 November 1953. pihak keluarga membuka tas-tas yang dibawa oleh Habib Alwi ketika berangkat ke Palembang. Ternyata satu koper ketika dibuka berisi peralatan merawat mayat, seperti kain mori, wangi-wangian, abun dan lainnya. Agaknya Habib Alwi Al-Habsyi telah diberi tanda oleh Allah SWT, bahwa akhir hidupnya sudah semakin dekat.
     Namun ada masalah dengan soal pemakaman, Habib Alwi Al-Habsyi berwasiat supaya dimakamkan di sebelah selatan Masjid Riyadh Solo.sedang waktu itu tidak ada penerbangan komersil dari Palembang ke Solo. Karena itulah, pihak keluarga menghubungi AURI untuk memberikan fasilitas penerbangan pesawat buat membawa jenazah Habib Alwi ke Solo.
     Ternyata banyak murid Habib Alwi Al-Habsyi yang bertugas di Angkatan Udara, sehingga beliau mendapatkan fasilitas angkutan udara. Karena itu jenazah disholatkan di tiga tempat : Palembang, Jakarta dan Solo.
Ada peristiwa unik yang mungkin baru pertama kali di Indonesia, bahkan di Dunia. Para kerabat dan Kru pesawat terbang AURI membacakan Tahlil di udara.
     Dan masalah lain timbul lagi. Pada tahun itu, sulit mendapatkan izin memakamkan seseorang di lahan pribadi, seperti halaman Masjid Riyadh. Namun berkat kegigihan Yuslam Badres, yang kala itu menjadi anggota DPRD kota Solo, izin pun bisa didapat, khusus dari gubernur Jawa tengah, sehingga jenazah Habib Alwi Al-Habsyi dimakamkan di selatan Masjid Riyadh.
     Makam Habib Alwi Al-Habsyi sampai sekarang banyak di ziarahi para Habaib dan Muhibbin yang datang dari berbagai kota. Beliau dikenang sebagai ulama yang penuh teladan, tangannya tidak lepas dari tasbih, juga dikenal sangat menghormati tamu yang datang kepadanya.
     Habib Alwi Al-Habsyi pun tidak pernah disusahkan oleh harta benda. Meski tidak kaya, ketika mengadakan acara haul atau Maulidan, ada saja uang yang didapatnya. Allah SWT telah mencukupi rezekinya dari tempat yang tidak terduga.
*******
Sumber  :
-Rachmat Pamungkas

-Hadrian Nor