Minggu, 01 September 2013

As-Sayyid Muhammad Al-Maliki 1946 – 2004M Menghadapi Perdebatan dengan para Ulama Wahabi


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




As-Sayyid Muhammad Al-Maliki  1946–2004M :    (bagian 2 )

 Menghadapi Perdebatan dengan para Ulama Wahabi




          Sebagaimana adat kebiasaan para keturunan dzuriat Rasulullah SAW dan Asyraf (keturunan orang-orang mulia) Makkah, As-Sayyid Muhammad Al-Maliki selalu tampil beda dengan Ulama Arab Saudi lainnya. Beliau selalu mengenakan jubah, sorban dan rida (selendang di pundak) yang biasa dipakai para Asyraf di Makkah.
     As-Sayyid Muhammad Al-Maliki selalu membantu kaum fakir miskin, para dhu’afa, anak yatim, serta membantu pembangunan masjid dan pendirian pondok pesantren, terutama di Indonesia.
     Beliau sangat murah hati, ramah dan hangat dengan siapa saja. Beliau seorang yang luwes dalam bergaul. Sekalipun demikian, beliau sangat tegas dan teguh dalam memegang prinsip yang telah beliau yakini. Sebagaimana tampak pada karya beliau yang berjudul “Qul Hadzihi Sabili”.
     Tidak bisa dipungkiri, luasnya ilmu dan kepandaian As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki adalah laksana lautan yang tak bertepi. Beliau seorang intelektual terkemuka, dosen dan guru besar di beberapa universitas Islam Internasional. Beliau juga sebagai pengajar dalam halaqah-halaqah tradisional. Serta beliau menyandang gelar Profesor Doktor di bidang ilmu hadits.
     Sayyid Muhammad Al-Maliki juga mendapat gelar kehormatan sebagai “Syeikh” dari para ulama masyhur di zamannya. Beliau selalu istiqomah mengikuti jalan dan tradisi para salaf pendahulunya serta mayoritas umat Islam, yaitu ahlussunnah wal jama’ah.
     Sayyid Muhammad Al-Maliki dikenal sebagai ulama yang menentang sikap sewenang-wenang yang mengatakan bahwa saudara muslim yang lainnya sebagai orang kafir dan musyrik. Ketika menghadapi orang-orang yang berbeda faham dengannya, beliau menggunakan perkataan yang bijak dengan dalil-dalil yang kuat dan tidak menggunakan emosi.
     Sehingga banyak dari orang-orang yangberbeda faham itu pada akhirnya simpatik dengan dakwah beliau. Dalam setiap kitab karangannya tidak ada kata-kata atau ungkapan cacian, hinaan, olokan atau kritikan terhadap golongan yang berbeda faham.
     Sayyid Muhammad Al-Maliki selalu menghargai pendapat orang lain dan menghormati orang yang berbeda faham dengannya. Beliau selalu bersabar terhadap mereka yang memusuhinya. Semua yang berlawanan dengannya selalu diterima dengan senyum.
     Sayyid Muhammad Al-Maliki menjawab semuanya dengan hikmah dan menyelesaikan berbagai masalah dengan menggunakan dalil-dalil yang akurat, bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu. Beliau tahu persis, bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya.
     Dan ini memang yang diinginkan oleh para musuh-musuh Islam. Sampai-sampai Sayyid Muhammad Al-Maliki menerima dengan rela digeser dari kedudukannya di Masjidil Haram. Beliau selalu menghormati orang-orang yang berbeda pendapat, selama bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah. Harga diri keilmuannya telah melekat pada diri beliau sejak kecil, hal ini terbentuk dalam lingkungan keluarga beliau.
     Pada tahun 1980 terjadi perselisihan besar antara Beliau dengan beberapa ulama wahabi setempat. Mereka menuduh Sayyid Muhammad Al-Maliki telah menyebarkan ajaran bid’ah dan khurafat serta dianggap sebagai sufi yang membawa ajaran sesat.
     Dan tuduhan beberapa ulama wahabi tersebut sampai ke pihak Kerajaan Saudi Arabia. Kemudian melalui Dewan Agama Kerajaan Saudi, ; Sayyid Muhammad Al-Maliki dilarang berdakwah di kawasan Arab Saudi, serta melarang peredaran buku-buku karyanya dan beliaupun dikucilkan dan diintimidasi, sehingga Sayyid Muhammad Al-Maliki mengungsi ke Madinah untuk beberapa waktu.
     Selama di Madinah pun Sayyid Muhammad Al-Maliki dilarang mengajar, bahkan beliau dilarang menjadi khatib dan imam shalat. Namun dengan dukungan Dr.Ahmad Zaki Yamani (mantan menteri perminyakan Arab Saudi) yang merupakan muridnya, maka Sayyid Muhammad Al-Maliki dapat berdakwah melalui kitab-kitab karyanya.
     Namun persoalan pun kian meruncing, akhirnya dapat dicari jalan tengah untuk melakukan klarifikasi dan penjelasan hingga beradu argumen, baik melalui kitab maupun perdebatan yang ditayangkan langsung di stasiun Televisi (TV) setempat.
     Setelah beberapa waktu akhirnya Sayyid Muhammad Al-Maliki menerbitkan buku yang berjudul “Mafahim Yajibu An Tushahah”, ditambah lagi Sayyid Muhammad Al-Maliki memenangkan perdebatan dengan para ulama wahabi yang selama ini menuduh beliau menyebarkan kesesatan, yang ditayangkan secara langsung di stasiun TV Saudi setempat. Dari situlah para ulama yang selama ini menentang beliau mengakui kehebatan dan keluasan ilmunya. Bahkan para pejabat kerajaan pun segan dan hormat kepada beliau.
     Syeikh Mur’i, Rektor Universitas Darul Ulum, Hudaidah, Hadramaut, mengatakan : “As-Sayyid Muhammad Al-Maliki kendati hidup di tengah-tengah tekanan yang ada beliau tetap tegar. Ketegaran beliau terbukti baik dalam menghadapi kelompok di luar faham beliau. Sungguh Al-Maliki adalah seorang tokoh besar di kalangan Ahlussunnah wal jama’ah.”
     Sayyid Muhammad Al-Maliki adalah seorang ulama yang produktif dalam menulis, lebih dari seratus kitab yang telah beliau tulis. Lewat goresan penanya terlahir sejumlah karya yang mengagumkan, berbagai topik ilmu pengetahuan, mulai dari tauhid, tafsir, hadits, fikih, sejarah, sufistik, undang-undang, sosial, hingga ketatanegaraan telah beliau kuasai.
    Karya Sayyid Muhammad Al-Maliki yang masyhur dan paling monumental adalah Kitab “Mafahim Yajibu an Tushahah” (artinya: Pemahaman yang harus diluruskan), di dalamnya berisi wawasan baru tentang hal-hal yang selama ini masih menjadi polemik di kalangan umat Islam. Perbedaan pemahaman tentang masalah bid’ah, syafa’at, tasawuf, tawassul, maulid, ziarah kubur dan lain sebagainya yang menjadi pertentangan, permusuhan, bahkan saling mengkafirkan.
     Kitab ini mendapat sambutan para ulama besar dunia. Banyak pujian muncul perihal kitab ini, salah satunya dari Asy-Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf, Mufti dan ulama di Mesir, yang mengatakan : ”Setelah meneliti kitab tersebut dengan seksama, pembahasan buku ini dapat dijadikan dalil dan bukti tentang ajaran Islam yang sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Dalam buku ini Al-Maliki telah meletakkan berbagai permasalahan secara proporsional, menjauhi sikap berlebihan dan telah bersikap adil. Al-Maliki telah mencoba memperbaiki berbagai pemahaman yang salah, disertai nasehat kepada saudara-saudaranya kaum muslimin.”
     Menurut Asy-Syeikh Muhammad Khazraj : “Dalam kitab Mafahim, Al-Maliki menggunakan berbagai dalil yang shahih serta argumentasi yang menakjubkan dan rasional.”
     Di dalam kitab “Al-Ghuluw Dairah bil Irhab wa Ifsad Al-Mujtama” yang disusun beberapa bulan sebelum wafatnya, As-Sayyid Muhammad Al-Maliki mengatakan : “Sekelompok golongan Islam yang mencela kaum Asy’ariyah, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali dan Sufi berarti telah mencela pula umat Islam ribuan tahun yang lampau.”
     As-Sayyid Muhammad Al-Maliki berpendapat, bahwa umat Islam perlu menggunakan segala daya dan upayanya untuk meningkatkan taraf hidup, baik dari segi rohani, kemasyarakatan maupun ekonomi.
     Beliau berharap agar umat Islam tidak menghabiskan waktunya hanya untuk berdebat dalam perkara-perkara kecil. Sebaliknya, ummat Islam harus bergandengan tangan, bahu membahu memerangi kemiskinan dan kebodohan serta segala yang disepakati sebagai perusak moral, kejahatan dan kemaksiatan.
*******
Sumber :
Abdul Qadir Umar Mauladdawilah.