Minggu, 08 September 2013

Habib Anis bin Habib Alwi bin Habib Ali Al-Habsyi (Shohibul Simtud Durar): Keakraban Habib Anis Al-Habsyi dengan Guru Sekumpul (KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari)


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ





 







    



       







      Habib Anis bin Habib Alwi bin Habib Ali Al-Habsyi (Shohibul Simtud Durar),  jadi dengan demikian beliau adalah cucu atau keturunan ketiga dari Al-Quthub Habib Ali Al-Habsyi (Shohibul Simtud Durar).

      Habib Anis Al-Habsy lahir dari pasangan Habib Alwi dan Syarifah Khadijah. Ketika berumur 9 tahun, keluarganya pindah ke Solo. Setelah berpindah-pindah rumah di kota Solo, mereka menetap di Kampung Gurawan, Pasar Kliwon, Surakarta.

     Saat kecil, selain mendapatkan didikan dari sang ayah, Habib Anis Al-Habsy juga pernah belajar di Madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahnya. Pada usia 22 tahun, dia menikahi Syarifah Syifa binti Thaha Assegaf, dan baru berputra satu orang, yaitu Habib Husein.

     Tidak lama kemudian pada tahun 1953 ayahanda Habib Anis, yaitu Habib Alwi Al-Habsy pergi ke kota Palembang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Namun, di kota itu, beliau menderita sakit beberapa saat.

     Seperti tahu bahwa saat kematiannya semakin dekat, beliau memanggil Habib Anis, anak lelaki tertua yang berada di Solo. Dalam pertemuan itu beliau menyerahkan jubahnya dan berwasiat untuk meneruskan kepemimpinannya di Masjid dan Zawiyah Riyadh di Solo.




     Habib Anis, yang kala itu berusia 23 tahun harus mengikuti amanah ayahnya. Sehingga sesuai amanah dan wasiat ayahnya (Habib Alwi Al-Habsy), maka peranannya sebagai ulama pun digantikan Habib Anis Al-Habsy.

    Karena peran inilah, Habib Anis Al-Habsy sempat dianggap sebagai "anak muda yang berpakaian tua". Usianya masih muda, tapi sudah memerankan sebagai seorang ustadz / kyai, yang sepantasnya dilakukan oleh orang tua.

    Beliau dijuluki "The Smiling Habib" dikarenakan senyum selalu menghiasi wajah beliau. Penghormatan terhadap tamu juga merupakan ciri khas beliau. Habib Anis Al-Habsy selalu menjamu tamu dengan keikhlasan beliau.

    Selain sebagai ustadz, Habib Anis muda pun pernah berdagang batik dan memiliki kios di Pasar Kliwer Solo, yang dijaga adiknya, Habib Ali. Namun, karena kegiatan di Masjid Ar-Riyadh (masjid tempat Habib Anis menggelar pengajian) semakin banyak, usaha perdagangan batik dihentikan. Habib Anis Al-Habsy lebih fokus pada usaha pengembangan ajaran Islam sebagai seorang ulama.

    Sebagai seorang Ulama Habib Anis Al-Habsy sangat akrab sekali dengan tuan Guru Sekumpul (KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari). Di tambah lagi pada majelis taklim Ar Raudhah Sekumpul, setiap malam Senin diadakan pembacaan Simtud Durar / Maulid Habsyi oleh tuan Guru Sekumpul (KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari), yang memiliki suara merdu yang dapat menggetarkan dan mengharukan hati bagi yang mendengarkannya.

    Selama masih hidup Habib Anis Al-Habsy seringkali berkunjung ke Kota Martapura untuk bersilaturahmi dengan tuan Guru Sekumpul (KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari).







     Habib Anis Al-Habsy wafat pada tanggal 6 November 2006 (14 Syawal 1427 H) pukul 12.55 WIB dalam usia 78 tahun.

*******

Sumber :

-Wikipedia

-Hadrian Nor

-Sumber lainnya