Minggu, 04 Agustus 2013

Tuanku Imam Bonjol (1772 – 1864) : Ulama , Pemimpin dan Pejuang yang Gigih Membela Aqidah Islam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



Tuanku Imam Bonjol  (1772 – 1864) :

Ulama , Pemimpin dan Pejuang  yang  Gigih Membela Aqidah Islam  



     Adalah Muhammad Shahab, yang lahir di Bonjol pada tahun 1772. Dia adalah putra dari pasangan Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya, Sayyid Khatib Bayanuddin, adalah seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota.Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif , Malin Basa , dan Tuanku Imam . Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.
     Dia dibesarkan dalam keluarga yang memegang tradisi Minang. Saat muda, Muhammad Shahab sudah mempelajari ilmu agama dari orangtuanya yang merupakan ulama setempat. Beliau memperoleh ilmu agama dari pesantren-pesantren dan berguru pada ulama ternama di Sumatera. Beliau juga mendalami tasawuf, ilmu fiqih, studi Alquran, dan Dalil. Sembari belajar agama, Muhammad Shahab rutin mengadakan pengajian dan menjadi pembicara bagi masyarakat setempat.
      Tuanku Imam Bonjol,  wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864, adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang gigih berperang melawan Belanda dalam perang yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838.
Riwayat  Perang Padri
1. Perang Antara Golongan Ulama (Padri) melawan Golongan Adat
      Pada awalnya timbulnya peperangan ini didasari keinginan dikalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasullullah shalallahu 'alaihi wasallam.            .
     Kaum adat adalah golongan yang masih memegang teguh tradisi-tradisi lama yang bertolak belakang dengan ajaran Agama Islam seperti bid'ah, sabung ayam, judi, minuman keras, dll. Dalam hal ini kaum adat dipimpin oleh Yang Dipertuan Pagaruyung.
    Timbulnya perang antara ulama dengan masyarakat adat dimulai ketika salah satu pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau Nan salapan, meminta tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Agung Sultan Arifin Muningsyah Kerajaan Paruyung,  beserta kaum adat untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak sesuai dengan Islam. Permintaan ini akhirnya diadakan beberapa negosiasi, tapi perkembangannya tidak ada kesepakatan dalam negosiasi tersebut. 
    Beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak dan akhirnya para ulama (Paderi) menyerang Pagaruyung pada tahun 1815 dan pecahlah pertempuran yang mengakibatkan mengungsinya Sultan Arifin Muningsyah ke ibu kota kerajaan Lubuk Jambi.
2.Perang Antara Golongan Ulama melawan Gabungan Kelompok Adat & Belanda
     Kekalahan yang dialami oleh kaum Adat, memaksa mereka meminta bantuan kepada Belanda.Tanggal 21 Februari 1821, kaum adat secara resmi bekerjasama dan mengadakan perjanjian dengan Belanda di Padang, sebagai kompensasi bantuan Belanda, Kerajaan Pagaruyung memberikan hak akses dan penguasaan di wilayah Darek. Dalam perjanjian ini dihadiri juga oleh keluarga kerajaan Pagaruyung oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar.
    Keikutsertaan Belanda dalam perang paderi ditandai dengan penyerangan simawang dan sulit air bawah tim kapten Goffinet dan kapten Dienema atas perintah Residen James du Puy di Padang pada tanggal 1821.
     Gigihnya perlawanan yang dilakukan Imam bonjol menipisnya kekuatan Belanda di Sumatera dan juga adanya peperangan di daerah lain seperti Perang Diponegoro, memaksa Belanda untuk mengadakan perjanjian perdamaian dengan kaum ulama, perjanjian itu dinamakan Perjanjian Masang tahun 1824. Tapi perjanjian itu rupanya hanya siasat Belanda sendiri dan akhirnya dilanggar sendiri setelah berakhirnya perang Pangeran Diponegoro.
3.Perang Antara Gabungan Kelompok Ulama & Adat melawan Belanda
     Melihat kelicikan Kolonial Belanda yang melanggar perjanjian Masang, dan kaum Adat merasa telah dirugikan oleh Belanda yang “bermuka-dua” tersebut , maka timbullah kesadaran berdamai dari pihak pribumi. Sebab perang saudara yang telah berlangsung selama 18 tahun itu sudah menyengsarakan rakyat Minang.Kesadaran akan perjuangan bersama mengusir belanda ini ditandai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama , Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an) .
    Dengan pasukan kekuatan penuh, dari beberapa catatan sejarah kekuatan Belanda saat itu berjumlah 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenep, Madura). Dengan pemimpin tim seperti; Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz. dan seterusnya, tetapi juga ada nama-namaInlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Inlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero. Belanda menyerang pertahanan ulama di benteng Bonjol dari berbagai jurusan selama kurang lebih enam bulan (20 Juli 1837).
     Belanda terus menerus mendatangkan tambahan kekuatan dari Batavia, pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1sergeant , 4 korporaals dan 112 flankeurs . Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka juga disebut Sepoysdan berdinas dalam tentara Belanda. 
Berakhirnya  Perang Padri
     Dengan datangnya tambahan kekuatan dari pihak Belanda mengakibatkan jatuhnya benteng Bonjol ke tangan Belanda. Akan tetapi pemimpin dan pejuang Paderi berlari ke hutan dan tidak sudi untuk menyerahkan diri.
    Untuk menangkap Imam Bonjol, Belanda menggunakan akal licik yaitu menjebak dengan cara mengundang Imam Bonjol ke Palupuh pada bulan oktober 1837 untuk berkonsultasi mengakhiri perang. Tapi tiba-tiba ditempat itu dikepung dan Imam Bonjol di asingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke lotak, Minahasa, Manado, sekaligus tempat akhir hayat Tuanku Imam Bonjol. Beliau dimakamkan ditempat pengasingan pada tanggal 8 November 1864.
(“Semoga Allah SWT Melimpahkan Rahmat dan Keridhoan-Nya kepada Tuanku Imam Bonjol...Amiiin..ya..Robbal’Alamiin.”)
*****
Sumber Bacaan :

- Irma Afiati

- Wikipedia