Sabtu, 10 Agustus 2013

Tuan Guru Syekh KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari : Ulama kharismatik dari “Kota Intan” Martapura



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ





      Tuan Guru Sekumpul Syekh KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa'ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
      Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama “Qusyairi” adalah anak dari perkawinan Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf dengan Hj. Masliah binti H. Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama, sedangkan adiknya bernama H. Rahmah.
      Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura, pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.
Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. 
     Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Alquran. Karena itulah, guru pertama dari Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri.
      Sejak kecil ia sudah digembleng orang tua untuk mengabdi kepada ilmu pengetahuan dan ditanamkan rasa cinta kasih dan hormat kepada para ulama.Guru Sekumpul sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syekh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium tangannya.
     Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, beliau mengikuti pendidikan "formal" masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura . Guru-guru beliau pada saat itu antara lain, Guru Abdul Muiz, Guru Sulaiman, Guru Muhammad Zein, Guru H. Abdul Hamid Husain, Guru H. Rafi'i, Guru Syahran, Guru Husin Dahlan, Guru H. Salman Yusuf. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura. 
     Saat ini ia sudah belajar dengan Guru-guru besar yang “khusus” dalam bidang keilmuan, seperti al-Alim al-Fadhil Sya'rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri, al-Alim al-Fadhil Salim Ma'ruf, al- Alim al-Allamah Syekh Seman Mulya, al-Alim Syekh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya'rani Arif, al-Alim al-Fadhil al-Hafizh Syekh Nashrun Thahir, dan KH. Aini Kandangan. Tiga yang terakhir merupakan guru beliau yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid.
     Para alim ulama yang menjadi guru-guru beliau pada saat itu adalah tokoh-tokoh besar yang sudah tidak diragukan lagi tingkat keilmuannya.  Kita mengenal Ulama yang tawadhu, KH.Husin Qadri lewat buku-buku beliau seperti Senjata Mukmin yang banyak dicetak di Kal-Sel. 
     Syekh Seman Mulya (Guru Padang/Pehumaan) adalah paman beliau yang secara intensif mendidik beliau, baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Bahkan Guru Seman langsung mengajak dan mengantarkan beliau mendatangi tokoh-tokoh ulama yang terkenal dengan bidang keilmuannya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan) maupun di Jawa untuk belajar. 
     Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) beliau kepada al-Alim al-Allamah Syekh Anang Sya'rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir. Menurut Guru Sekumpul sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak.
     Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu faraidh. (Pada waktu itu, hanya ada dua orang ahli ilmu falak yang diakui ketinggian dan kedalamannya, yaitu beliau dan almarhum KH. Hanafi Gobet, mesjid Jami Banjarmasin).
     Selain itu, di antara guru-guru beliau lagi selanjutnya adalah Syekh Syarwani Abdan Al-Banjari (Guru Bangil) dan al-Alim al-Allamah al-Syekh al-Sayyid Muhammad Amin Qutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al-Shufiyah). 
     Dari beberapa guru beliau lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah), Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, dan Syaikh Abdul Qadir al-Bar.
     Sedangkan guru pertama secara ruhani adalah al-Alim al-Allamah Ali Junaidi (Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al-Allamah Mufti Jamaludin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan al-Alim al- Allamah Muhammad Syarwani Abdan al-Banjari di Bangil. 
     Gemblengan ayah dan bimbingan intensif paman beliau semenjak kecil telah tertanam. Sejak kecil ia sudah menunjukkan sifat mulia; penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayah beliau sendiri. 
     Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Zaini Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan usaha berdagang yang sesuai dengan syariat Islam.
     Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan dari Tuan Guru Sekumpul Syekh Muhammad Zaini Ghani, yaitu : Dia sudah hapal al-Qur`an sejak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulan beliau betul-betul dijaga. Kemanapun bepergian selalu ditemani (ada sepupunya yang ditugaskan oleh Syekh Seman Mulya untuk menemani beliau).
      Di usia 9 tahun pada malam jum'at beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di daun pintu masuk kapal tertulis "Sapinah al-Auliya". Dia ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga sampai tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum'at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jum'at ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini dia dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk ia melihat masih banyak kursi yang kosong.
      Ketika ia merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak dikira orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut dia dalam mimpi tersebut, Syekh KH. Syarwani Abdan Al-Banjari (Guru Bangil). 


Majelis Pengajian Sekumpul di Musholla Ar Raudhah
      Banyak sekali jamaah yang menghadiri majelis pengajian Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Ghani di Musholla Ar Raudhah, yang berdatangan dari Kalimantan Selatan, Kal Tim, Kal Teng, pulau Jawa. Bahkan dari Negara tetangga ; Malaysia, Brunei, Singapura dan lain-lainnya. Pengajian ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat dan juga oleh para Habaib dzuriat Rasulullah SAW.


   

     
      Beliau secara rutin mengadakan pengajaran Kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam Ghazali. Di samping itu mengadakan Amaliyah secara berjamaah, yakni :
- Setiap malam Senin Maulid Habsyi (Simtud Durar), karya Al-Quthub Al Habib ‘Ali Al-Habsyi.
- Pembacaan Maulid ‘A- zab.
- Pembacaan Burdah, karya Imam Bushiri
- Pembacaan Dalailul Khairat, karya Syekh Sulaiman Al- Jazuli Al-Hasani
- Pembacaan Ratib Haddad,
- Pembacaan Istighfar, karya Imam Hasan Basri, dan amaliyah berjamaah lainnya.
      Salah satu pesan beliau tentang karamah adalah agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. 
      Selain sebagai ulama yang ramah dan kasih sayang kepada setiap orang, dia juga orang yang tegas dan tidak segan -segan kepada penguasa ketika menyimpang. Begitu juga dalam pengajian-pengajian, tidak kurang-kurangnya ia menyampaikan kritik dan teguran kepada penguasa baik Gubernur, Bupati atau jajaran lainnya dalam suatu masalah yang ia anggap menyimpang atau tidak tepat.


    
  Tuan Guru KH.M. Zaini Abdul Ghani yang juga sebagai Syekh / Mursyid tarekat Sammaniyah, telah menulis beberapa buah kitab, antara lain:
- Risalah Mubaraqah.
-Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani.
- Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
- Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a'zham Muhammad bin Ali Ba'alawy.
      Sebelum beliau wafat, beliau memberikan wasiat kepada seluruh kerabat, para murid dan kaum muslimin. yang di buat pada hari Ahad, tanggal 11 Jumadil Akhir 1423 H, yang isi wasiatnya berbunyi:
1. Menghormati ulama.
2. Murah diri, murah hati, manis muka.
3. Memaafkan segala kesalahan orang lain.
4. Jangan bersifat tamak dan memakan harta riba.
5. Jangan menyakiti orang lain.
6. Jangan merasa baik dari orang lain.
7. Berpegang kepada Allah segala hajat yang diinginkan.
8. Baik sangka terhadap muslim.
9. Banyak-banyak sabar ketika mendapat musibah, banyak-banyak syukur atas nikmat.
10. Setiap orang yang iri dengki atau adu asah jangan dilayani, serahkan segala sesuatu kepada Allah (tawakkal).
      Ulama kharismatik Al-‘Alimul ‘Allamah Al’Arifbillah Maulana KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab disapa “Guru Sekumpul” ini telah berpulang ke Rahmatullah pada Hari Rabu,tanggal 10 Agustus 2005, subuh dinihari pukul 05.00 Wita atau tanggal 2 Rajab 1426H, diusia 63 tahun.
      Dengan meninggalkan dua putera sebagai penerus beliau, yaitu Muhammad Amin Al-Badali dan Ahmad Hafi Badali.




(“Semoga Allah SWT selalu melimpahkan Rahmat dan keRidhoan-Nya kepada Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Ghani Al-Banjari serta putera-putera beliau dan menempatkan beliau "sekumpul" bersama Rasulullah SAW di Jannatul Firdaus..Amiiin”.)

Sumber :
-Abu Daudi.

-M. Haderian noor.