Senin, 05 Agustus 2013

Seputar Ekskusi Mati Panglima Batur : Sosok Pejuang yang Sholeh dan Pemberani

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




Seputar Ekskusi Mati Panglima Batur :

Sosok Pejuang yang Sholeh dan Pemberani

    

     Apabila kita berkunjung ke Sungai Jingah Banjarmasin, kita akan melewati suatu jalan, bernama Jalan Panglima Batur. Tempat ini memiliki hubungan sejarah yang erat dengan tokoh pejuang ini.
     Panglima Batur adalah salah seorang pejuang Perang Banjar (Bandjermasinsche Krijg), yakni perang antara dua bangsa dan pemerintahan yang berdaulat, yakni antara bangsa Banjar di Kesultanan Banjarmasin di satu pihak yang wilayah utamanya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah sekarang dengan pihak Belanda.
    Pada saat berdirinya Kesultanan Banjar, semua suku yang ada dalam wilayah teritorial Kesultanan Banjar seperti suku Banjar, Bukit, dan Dayak (antara lain ; suku Dayak Dusun, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai) baik yang beragama Islam maupun yang masih menganut kepercayaan Kaharingan adalah ”Bangsa Banjar”.
      Panglima Batur berasal dari suku Dayak beragama Islam di daerah Buntok-Kecil, 40 Km di udik Muara Teweh. Sebagai panglima ia mengabdi kepada pemerintahan Pegustian, yakni pemerintahan kelanjutan Kesultanan Banjar di hulu Sungai Barito. Setelah Perang Banjar meletus pada tahun 1859, maka kemudian perang ini meluas hingga ke hulu Barito.
     Pangeran Antasari sebagai pimpinan perang mampu menyatukan kalangan pejuang dari etnis Banjar dan Dayak untuk bersama-sama melawan Belanda. Setelah Pangeran  Antasari meninggal di tahun 1862 di Bayan Begok daerah Puruk cahu.    
   Pimpinan perlawanan diteruskan oleh puteranya Sultan Muhammad Seman, dan ia dibantu oleh pengikut setianya yakni Panglima Batur. Oleh karena itu, perjuangan yang dilakukan Panglima Batur pada hakikatnya adalah untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan tanah Banjar dari penguasaan penjajah Belanda.
    Panglima Batur bersama Sultan Muhammad Seman mempertahankan benteng terakhir di Sungai Manawing dalam perjuangan mereka melawan Belanda. Pada saat Panglima Batur mendapat perintah untuk pergi ke Kerajaan Pasir untuk memperoleh mesiu, saat itulah benteng Manawing mendapat serangan Belanda.
     Pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Christofel yang berpengalaman dalam perang Aceh, dengan sejumlah besar pasukan marsose yang terkenal ganas dan bengis, menyerbu benteng Manawing pada Januari 1905. Dalam pertempuran yang tidak seimbang ini Sultan Muhammad Seman tidak dapat bertahan. Sultan tertembak dan dia gugur sebagai kesuma bangsa.
    Ia adalah sultan terakhir dari Kerajaan Banjar dalam pemerintahan pelarian di daerah Barito. Sultan Muhammad Seman benar-benar konsekwen terhadap sumpah melaksanakan amanah ayahndanya Pangeran Antasari yang tidak kenal kompromi dengan Belanda,  “Haram manyarah waja sampai kaputing” .
    Tertegun dan dengan rasa sedih yang mendalam ketika Panglima Batur  kembali ke benteng Manawing yang musnah, dan Sultan Muhammad Seman, pimpinannya telah tewas. Panglima Batur dan teman seperjuangannya Panglima Umbung pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Panglima Umbung kembali ke Buntok-Kecil. Sultan Muhammad di Seman di makamkan di puncak gunung di Puruk Cahu.
    Sepeninggal Sultan, Panglima Baturlah satu-satunya pimpinan perjuangan yang masih bertahan. Ia terkenal sangat teguh dengan pendiriannya dan sangat patuh dengan sumpah yang telah diucapkannya, tetapi ia mudah terharu dan sedih jika melihat anak buahnya atau keluarganya yang jatuh menderita. Hal itu diketahui oleh Belanda kelemahan yang menjadi sifat Panglima Batur, dan kelemahan inilah yang dijadikan alat untuk menjebaknya.
     Ketika terjadi upacara adat perkawinan kemenakannya di kampung Lemo, dimana seluruh anggota keluarga Panglima Batur terkumpul, saat itulah serdadu Belanda mengadakan penangkapan. Pasangan mempelai yang sedang bersanding juga ditangkap, ditawan dimasukkan ke dalam tahanan, dipukuli dan disiksa tanpa perikemanusiaan. Cara inilah yang dipakai Belanda untuk menjebak Panglima Batur.
     Dengan perantaraan Haji Kuwit salah seorang saudara sepupu Panglima Batur. Atas suruhan Belanda,  Haji Kuwit mengatakan bahwa apabila Panglima Batur bersedia keluar dari persembunyian dan bersedia berunding dengan Belanda, barulah tawanan yang terdiri dari keluarganya dikeluarkan dan dibebaskan, dan sebaliknya apabila Panglima Batur tetap berkeras kepala, tawanan tersebut akan ditembak mati oleh Belanda.
     Hati Panglima Batur menjadi gundah dan dia sadar bahwa apabila dia bertekad lebih baik dia yang menjadi korban sendirian dari pada keluarganya yang tidak berdosa ikut menanggungnya.
      Dengan diiringi orang-orang tua dan orang sekampungnya Panglima Batur turun ke Muara Teweh. Benar apa yang menjadi kata hatinya, bukan perundingan tetapi ia ditangkap sebagai tawanan dan selanjutnya dihadapkan di meja pengadilan. Ini terjadi pada tanggal 24 Agustus 1905. Setelah dua minggu di tawan di Muara Teweh, Panglima Batur diangkut dengan kapal ke Banjarmasin.
      Menurut penuturan Tetuha zaman itu, dalam perjalanan dengan kapal ke Banjarmasin, apabila waktu sholat tiba Panglima Batur dengan berkat “ilmunya” dapat melepas rantai yang membelenggunya. Kemudian Panglima Batur turun ke sungai dan berwudhu diatas air, kemudian naik kembali ke kapal untuk mengerjakan sholat. Para prajurit Belanda yang mengawal hanya dapat tertegun menyaksikan hal tersebut.
      Di kota Banjarmasin dia diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati. namun saat mau dieksekusi ditiang gantung salah satu alatnya tidak berfungsi dan saat itu rencana hukum gantung ditunda.
     Menurut Tetuha zaman itu pula, bahwa sebelum menjalani hukuman mati, Panglima Batur selalu khusyu sholat dan sujud bermunajat ke hadhirat Allah SWT, agar beliau diwafatkan sebelum digantung penjajah Belanda. Dan Alhamdulillah do’a beliau dikabulkan oleh Allah SWT.
    Setelah tertunda sepekan, (pejuang yang dicari-cari Belanda dengan imbalan hadiah 1.000 gulden,  apabila dapat menangkapnya)  kembali akan dihukum gantung, namun saat itu Belanda terkejut karena Panglima Batur sudah meninggal dunia.
    Pada tanggal 15 September 1905, Jasad pejuang itu tetap dibawa ke tiang gantungan untuk diperlihatkan kepada masyarakat bahwa Panglima Batur benar-benar dihukum gantung dan jenazahnya dikubur di Kuin Banjarmasin, selanjutnya pada tanggal 21 April 1958 makamnya dipindahkan ke kompleks “Makam Pahlawan Banjar” Jalan Mesjid Jami Banjarmasin.



 










(“Semoga Rahmat dan Keridhoan Allah SWT selalu terlimpah kepada pejuang syuhada ini...Amiiin”.)
*****
Sumber Bacaan :
-Wikipedia
-Wajidi
-Simpang Mahar
-foto Panglima Batur koleksi keluarga alm. H.M. Yakub Amin (lahir 1915, pensiunan TNI tahun 1950) diwarisi dari orang tua beliau, di Jalan Panglima Batur, Banjarmasin.