Jumat, 30 Agustus 2013

Mengapa Harus Kaum Syiah yang Dimusuhi ?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



Mengapa Harus Kaum Syiah yang Dimusuhi ?


Motif Di Balik Penghinaan terhadap Ayatullah Sistani


BERITA( Senin, 02 Oktober 2011): Kini, di saat dunia Islam berupaya mewujudkan persatuan dan solidaritas, segelintir individu dan kelompok berupaya mengganjal proses tersebut. Penghinaan dan pengkafiran yang dilakukan sejumlah ulama Wahabi termasuk cara-cara memecah belah umat Islam. Hal ini dilakukan untuk memisahkan tokoh yang mereka hina dengan umat Islam.
      Salah satunya, aksi terbaru Wahabi berupa penghinaan dan pengkafiran yang dilakukan Imam Jumat Riyadh, Muhammad Abdul Rahman al-Arifi terhadap Marja/Ulama Syiah terkemuka Irak, Ayatullah Sistani. Al-Arifi menyebut marja/Ulama terkemuka Irak ini kafir dan rusak.
      Ayatullah Sayyid Ali Sistani lahir di kota Mashhad, timur laut Iran pada tahun 1930 silam. Sejak usia 11 tahun, beliau sangat antusias mempelajari ilmu agama dan beberapa tahun kemudian melanjutkan studinya di Hauzah Ilmiah Qom. Pada usia 22 tahun, ia hijrah ke Irak untuk melanjutkan pendidikan agamanya di kota Najaf.
      Sistani muda menimba ilmu dari berbagai ulama terkemuka hingga akhirnya menjadi seorang mujtahid, pemikir Islam dan marja syiah. Selain dikenal sebagai ulama kawakan Irak, Ayatullah Sistani adalah ulama yang paling berpengaruh dalam transformasi di negara ini selama tujuh tahun pendudukan asing. Beliau berperan vital mewujudkan ketentraman dan keamanan serta mengokohkan kerukunan Sunni dan Syiah Irak.
       Ayatullah Sistani tidak hanya dikenal di Irak, bahkan namanya harum di tingkat regional dan global, karena pengaruh beliau dalam transformasi Irak. Tampaknya, inilah yang menyebabkan luasnya reaksi keras atas penghinaan terhadap marja terkemuka Syiah ini. Presiden Irak, Jalal Talabani dalam surat protes yang dilayangkan kepada Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, mengecam penghinaan terhadap Ayatullah Sistani, menulis, "Ayatullah Sistani adalah salah seorang marji Syiah terkemuka. Beliau merupakan simbol persatuan dan kerukunan bangsa Irak. Ayatullah Sistani memainkan berperan penting dalam meredakan api fitnah di antara rakyat Irak."
       Selain Presiden Irak, Perdana Menteri, para deputi dan anggota parlemen Irak dalam statemennya terpisah turut mengecam penghinaan terhadap ulama terkemuka ini. Selain di Irak, berbagai kelompok dan tokoh dari negara-negara Islam turut menumpahkan kemarahannya terhadap statemen provokatif dan tidak berdasar Muhammad al-Arifi yang menghina Ayatullah Sistani. Bahkan muslim Syiah Arab Saudi sendiri mengecam sikap al-Arifi tersebut.
       Imam Jumat Masjid al-Rasul di wilayah Qatif, Arab Saudi, Sheikh al-Yusuf mengatakan, "Orang yang berkedudukan sebagai mufti, perilaku dan lisannya harus menjadi contoh bagi orang lain." Ditegaskannya, Menghina Ayatullah Sistani berarti menghina jutaan umat Islam.
      Al-Yusuf menilai kedengkian dan permusuhan terhadap Syiah sebagai tugas utama ulama Wahabi. Sedangkan, Ayatullah Sistani sebagai ulama yang bertakwa hanya memikirkan ketentraman dan kebahagiaan rakyat Irak, bahkan beliau tidak membalas penghinaan al-Arifi tersebut.
      Ketenangan dan kelapangan Ayatullah Sistani saat menghadapi seorang ulama fanatik Wahabi mengingatkan kita ayat al-Quran mengenai sifat hamba Allah sejati. Allah swt dalam surat al-Furqan ayat 63, berfirman, "Hamba Allah SWT yang baik adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan."
      Tetapi, reaksi bijak Ayatullah Sistani tersebut tidak mengurangi keburukan statemen Al-Arifi dan sejatinya, menghina seorang ulama berarti menghina seluruh umat Islam. Ironisnya, mufti Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz bin Abdullah bukan hanya tidak mengecam penghinaan yang dilakukan al-Arifi, bahkan secara terselubung ia membenarkan statemen tersebut seraya mengatakan, "Ulama Arab Saudi tidak pernah mengkafirkan orang yang tidak semestinya."
      Bagaimanapun, statemen al-Arifi terhadap Ayatullah Sistani lebih menunjukkan buruknya provokasi al-Arifi menghadapi seruan persatuan yang dikumandangkan Ayatullah Sistani. Namun amat disayangkan al-Arifi dan para pemikir Wahabi lainnya tidak mengetahui kewajiban selain memecah belah umat Islam.
     Teroris di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang menumpahkan darah umat Islam adalah orang-orang yang berada dalam pengaruh pengajaran dan fatwa fanatik Salafi terkait diperbolehkannya membunuh orang Syiah. Sebaliknya, Ayatullah Sistani tegak berdiri menghadapi pemikiran menyimpang dan kekerasan, seraya menyerukan persatuan bangsa Irak.
     Imam Jumat Masjid Bukhamsin kota Hufuf Arab Saudi, Sheikh Hassan bin Abdul Hadi menyinggung peran persatuan yang dilakukan Ayatullah Sistani di Irak, seraya mengatakan,"Ayatullah Sistani meredakan friksi mazhab di Irak dan melarang segala bentuk reaksi Syiah atas penyerangan terhadap keyakinan mereka." Dengan dasar ini, Sheikh al-Azhar, Muhammad Sayyid Tantawi menyatakan bahwa fatwa pengkafiran tidak ada kaitannya dengan Islam. Ulama terkemuka Sunni Irak dan ketua Jamaah Ulama Irak, Sheikh Khalid al-Mala mengecam keras statemen al-Arifi.
     Sejatinya, Muhammad al-Arifi tidak hanya menghina Ayatullah Sistani, bahkan dalam khutbah Jumatnya mempersoalkan esensi lahirnya Syiah. Al-Arifi mengklaim bahwa prinsip mazhab Syiah adalah agama Zoroaster yang berkembang pesat sebelum Islam di Iran. Statemen ini merupakan penyelewengan terang-terangan terhadap sejarah Syiah yang memiliki penganut lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia. Karena, semua pihak mengetahui bahwa Syiah berdiri di atas dua prinsip yang diserukan Rasulullah Saw yaitu mengikuti al-Quran dan Ahlul Bait. Dari sisi isi tidak ada hubungannya dengan agama Zoroaster.
     Dalam pemikiran Syiah, Ahlul Bait adalah mufasir sejati al-Quran, dan riwayat dari Rasulullah dan keturunannya adalah sumber agung dalam Syiah. Ajaran mulia ini bisa menjadi solusi di berbagai bidang bagi umat manusia. Meski demikian, di berbagai bagian penting keyakinan dan praktik manasik haji dalam Syiah memiliki kesamaan dengan ahli sunah dan hanya terdapat sejumlah perbedaan pada masalah cabang yang tidak terlalu signifikan.
     Meski mayoritas besar penganut Syiah dunia berada di Iran, namun penganut Syiah juga tersebar di sejumlah negara Arab seperti Lebanon, Kuwait, Yaman serta Arab Saudi, dan sejumlah negara lain seperti Pakistan, Afghanistan dan India. Selain itu, Syiah juga merupakan mayoritas di Irak, Bahrain dan Republik Azerbaijan. Seorang warga Kuwait, Fuad Hashem menyinggung realitas ini, di koran al-Watan menulis, "Jika kita memperbolehkan keyakinan pihak lain dikaitkan dengan agama sebelum Islam, hal ini bermakna bahwa mereka juga akan mengatakan bahwa kalian menyembah berhala yang dibuat dari batu maupun kurma."
     Ulama Wahabi, Sheikh Al-Arifi juga mengungkapkan klaim aneh dan tidak berdasar lainnya, diantaranya, ia menuding Syiah menyerang jemaah haji pada masa lalu dan saat ini. Pada faktanya, jemaah haji syiah adalah korban serangan keji pada peristiwa haji tahun 1987 yang menyebabkan lebih dari 400 jemaah haji Iran dan non-Iran syahid. Selain itu, al-Arifi juga mempersoalkan keberadaan Syiah Arab Saudi dengan mengatakan, "Jika lembaga-lembaga keamanan Arab Saudi tidak mewaspadai orang-orang Syiah di negara ini, mereka akan melakukan tindakan aneh." Tampaknya, maksud dari Sheikh Wahabi ini adalah protes orang-orang Syiah Arab Saudi terhadap diskriminasi politik, ekonomi dan mazhab di negara ini.
     Di Arab Saudi, Wahabi yang memiliki pandangan keagamaan sempit terus membatasi kebebasan mazhab lain, termasuk Syiah. Muhammad al-Arifi berkeyakinan bahwa Syiah 12 Imam berkembang pesat di Yaman dan klaim ini dijadikan alasan serangan militer Yaman dan Arab Saudi. Padahal manusia bebas memilih agama dan mazhabnya. Selain itu, berdasarkan logika tersebut, upaya tanpa henti Wahabi di berbagai negara termasuk di Yaman dalam menekan rakyat di negara ini supaya menerima ajaran Wahabi merupakan alasan Arab Saudi mengintervensi urusan internal Yaman.
     Bagaimanapun sejarah Wahabi dipenuhi penghinaan dan pengkafiran terhadap saudara muslimnya, terutama Syiah dan melempar tudingan kafir terhadap tokoh terkemuka dan bertakwa seperti Ayatullah Sistani jelas bukanlah isue baru. Sejatinya, sebagaimana sejarah mencatat, tudingan tidak berdasar ini hanya berujung kebencian terhadap gerakan fanatik dan pemecah belah umat Islam, dan justru hal ini makin meningkatkan popularitas orang yang dihina tanpa bukti tersebut. (IRIB)

*******
Sumber :
indonesian.irib.ir   ( Senin, 02 Oktober 2011)