Sabtu, 24 Agustus 2013

Masjid Biru di Jerman untuk menghormati Raden Saleh Pelukis Terkenal dari Indonesia


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




Masjid Biru di Jerman untuk menghormati 

Raden Saleh Pelukis Terkenal dari Indonesia   


     Kenangan yang tertinggal dari Raden Saleh yang terletak di kota kecil Maxen (dekat kota Dresden) di Jerman adalah Mesjid Biru yang terkenal, yang dibangun Mayor Serre pada tahun 1848 sebagai penghormatan kepada beliau, tetap memperlihatkan adanya moto yang tidak pupus oleh zaman : “Muliakan Allah dan Cintailah sesama manusia” dalam tulisan tangan Jawa Kuno.
     Dari sini, Raden Saleh sebagai seorang Muslim dan juga keturunan dari kiai / Sayyid sejak tahun 1600an, menyuarakan gema dari kata-kata yang berlaku sepanjang masa yang memperlihatkan adanya pertemanan dan saling memahami antar budaya yang berbeda, yang ditulisnya di dalam buku harian dari teman-temannya orang Jerman.
     Memang banyak orang bangsawan kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta Jerman yang mengagumi pelukis yang semasa di mancanegara tampil unik dengan berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon. Di antara mereka adalah bangsawan Sachsen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria dan sejumlah gubernur jenderal seperti, Johannes van den Bosch, Jean Chretien Baud dan  Herman Willem Daendels. 
     Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian selalu ia sematkan di dada. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ksatria Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dan lain-lainnya.

     Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa ningrat. Dia adalah cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab. Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di Sekolah Rakyat (Volks-School).
     Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof.Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor, sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya.
     Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia A.A.J.Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan.
     A.A.J.Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami Seni Lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Profesor Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.

     Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph.van der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826) setelah ia melihat karya Raden Saleh.
     Tahun 1829, Gubernur Jenderal  van der Capellen membiayai Raden Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
     Semasa belajar di Belanda keterampilannya berkembang pesat. Dua tahun pertama, Raden Saleh  gunakan untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andries Schelfhout, karena karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.
     Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda dari Hindia dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.
     Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar "wis-, land-, meet- en werktuigkunde” (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan antara Menteri Jajahan, Raja Willem I (1772-1843) dan pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Tapi beasiswa dari kas pemerintah Belanda dihentikan.
     Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu, misalnya Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.
     Wawasan seninya pun makin berkembang seiring kekaguman pada karya tokoh Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1863) pelukis Perancis legendaris. Ia pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia.

     Tokoh romantisme Delacroix dinilai mempengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis (1844-1851).
     Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerri Cault (1791-1824), dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.

     Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat, tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.
     Dari Perancis ia bersama pelukis Perancis kenamaan, Horace Vernet ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan pada tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar.

     Ketika Hague (berkebangsaan Belanda), seorang penjinak singa mengijinkan beliau mempelajari singa-singanya. Lukisan tentang perilaku / tampilan binatang liarlah yang membawa Pangeran Raden Saleh mendapatkan ketenaran.

     Berkat Raden Saleh, Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa menerobos museum terkenal seperti, Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda dan dipamerkan di museum bergengsi Louvre, Paris, Perancis.

     Negeri lain yang ia kunjungi: Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851, ketika Raden Saleh pulang ke Hindia Belanda (Indonesia). Tak banyak catatan sepulangnya di Hindia Belanda. Ia dipercaya menjadi konservator pada "Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni". Beberapa lukisan potret keluarga keraton dan pemandangan menunjukkan ia tetap berkarya.
     Kemudian pada tahun 1875, Raden Saleh berangkat lagi ke Eropa bersama istrinya dan baru kembali ke Jawa tahun 1878. Selanjutnya, Raden Saleh menetap di Bogor sampai wafatnya pada tanggal 23 April 1880.
*****


Sumber : Wikipedia