Senin, 19 Agustus 2013

As-Sayyid Muhammad Al-Maliki (1946 – 2004M) : Sang Permata Ilmu Berkah Keturunan Bani Hasyim


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



As-Sayyid Muhammad Al-Maliki (1946 – 2004M) :   (Bagian 1)
Sang Permata Ilmu Berkah Keturunan Bani Hasyim



     As-Sayyid Muhammad Al-Maliki dilahirkan pada tahun 1365H atau 1946M, di Kota Suci Makkah. Adapun gelar Al-Maliki yang terpatri pada nama beliau, dikarenakan datuk beliau menjadi Mufti Madzhab Maliki yang menjadi rujukan di Hijaz kala itu.
    Nasab beliau ; As-Sayyid Muhammad Al-Maliki bin Alwi bin Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani, nasab ini terus bersambung kepada As-Sayyid Idris Al-Azhari bin Idris Al-Akbar bin Abdillah Al-Kamil bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra Putri Rasulullah SAW.
    Keturunan Al-Imam Hasan (kakak) termasuk langka dan jarang, kebanyakan adalah keturunan Al-Imam Husein (adik), terutama yang berasal dari Hadramaut, Yaman.
Keturunan Al-Imam Hasan yang masyhur, antara lain :
-As-Sayyid Samman Al-Madani Al-Hasani (Tarekat Sammaniyah),
-As-Sayyid Sulaiman Al-Jazuli Al-Hasani (Sohibul Dalailul Khairat),
-As-Sayyid Abdussalam Al-Maghribi Al-Hasani (Guru Imam Abu Hasan As-Sadzaly),   
 dan lain-lainnya.
     Keluarga Al-Maliki merupakan salah satu keluarga yang dihormati di kalangan petinggi dan masyarakat Kota Makkah dan telah melahirkan para alim ulama yang menjadi pengajar di Makkah sejak lama.
     Kakek beliau, As-Sayyid Abbas Al-Maliki menduduki jabatan Mufti dan Qadhi di Makkah, serta ditunjuk oleh pemerintah kerajaan Saudi Arabia sebagai pengajar dan khatib di Masjidil Haram. Raja Saudi Arabia kala itu, Raja Abdul Aziz bin Sa’ud sangat menghormati beliau.
     Sedangkan ayah dari As-Sayyid Muhammad Al-Maliki, yaitu As-Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki merupakan salah seorang Ulama Makkah termasyhur di abad 19M. As-Sayyid Alawi telah mengajar di Masjidil Haram selama hampir 40 tahun. Dan beliau telah mencetak ribuan murid yang menyebar ke seluruh pelosok dunia.
    Semenjak kecil As-Sayyid Muhammad Al-Maliki mendapat pendidikan khusus dari ayahnya. As-Sayyid Muhammad Al-Maliki menghafal Al-Qur’an dan belajar dalam halaqah  keilmuan di Masjidil Haram yang dipimpin oleh sang ayah.
    Dalam bimbingan ayahnya, As-Sayyid Muhammad Al-Maliki mempelajari dan mendalami berbagai disiplin keilmuan, di antaranya adalah akidah, tafsir, hadits, fikih, ushul, musthalaah, nahwu dan berbagai disiplin ilmu keislaman lainnya. Beliau juga menimba ilmu dan mengambil ijazah dari para ulama yang berada di Hijaz kala itu.
    Kecerdasan As-Sayyid Muhammad Al-Maliki telah nampak sejak kecil. Beliau hafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun. Pada usia 15 tahun beliau hafal Al-Muwattha’, kitab hadits karya Al-Imam Malik. Menginjak usia 15 tahun dengan arahan guru-gurunya, As-Sayyid Muhammad Al-Maliki telah mengajar kitab hadits dan fikih di Masjidil Haram.
    Setelah mempelajari berbagai disiplin ilmu di Haramain, beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dari Universitas Al-Azhar beliau menerima gelar PhD.(Doktor/S3), padahal usia beliau baru 25 tahun.
    Hal ini menjadikan beliau sebagai warga Arab Saudi yang pertama dan termuda menerima gelar PhD dari Al-Azhar. Disertasi/tesis beliau berkenaan dengan hadits dianggap cemerlang dan memperoleh predikat “Summa Cum Laude”, dibawah bimbingan pakar Hadits Profesor Dr.Muhammad Abu Zahrah.
    Sepulang dari Al-Azhar pada tahun 1970M, beliau ditunjuk untuk mengajar di Universitas Ummul Qurra, Makkah dan beliau di kukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Hadits pada saat usia baru 26 tahun.
    Perjalanan menuntut ilmu merupakan jalan kebanyakan para leluhurnya, As-Sayyid Muhammad Al-Maliki juga demikian. Beliau mengembara sejak usia muda untuk menuntut ilmu dari para ulama di zamannya. Diantaranya ke Afrika, Mesir, Maroko, Libya, Sudan, Syuriah, Turki, Hadramaut, India dan Pakistan. Di sana beliau bertemu dengan para auliya, guru-guru thariqah dan tokoh-tokoh sufi.
    Dalam kesempatan itu pula As-Sayyid Muhammad Al-Maliki mempergunakan waktunya untuk menziarahi masjid-masjid dan makam para auliya, serta mengumpulkan berbagai manuskrip dan kitab-kitab yang langka. Dalam pengembaraannya itu As-Sayyid Muhammad Al-Maliki telah mendapat ijazah keilmuan lebih dari 200 para ulama.
     As-Sayyid Muhammad Al-Maliki mendapat gelar kehormatan sebagai “Syeikh” dari para ulama masyhur di zamannya, dikarenakan banyaknya sanad dan ijazah yang beliau dapatkan, baik berupa ilmu ushul maupun ilmu furu’. Beliau juga mendapat gelar sebagai muhaddits, dikarenakan penguasaan dan pemahaman serta hafalan beliau tentang matan hadits, bahkan sanad dan perawi yang bersambung hingga pada Rasulullah SAW.
     Asy-Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj, seorang Ulama Makkah, mengatakan :  ”Beliau adalah Al-Arifbillah, seorang yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah SWT. Beliau seorang pakar hadits, maka tidaklah berlebihan jika saya mengatakan beliau sebagai Al-Muwattha’ berjalan.”
    As-Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani selalu istiqomah mengikuti jalan dan tradisi para salaf pendahulunya. Beliau berpegang atas Madzahibul ‘Arba’. Beliau pernah mengatakan : “Aku adalah anak dari empat madzhab yang berlaku di ahlussunnah wal jama’ah.”
    Sang permata ilmu ini As-Sayyid Muhammad Al-Maliki bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani telah berpulang ke-Rahmatullah pada waktu subuh, hari Jum’at tanggal 15 Ramadhan 1425H atau 29 Oktober 2004 pada usia 58 tahun di Makkah. Beliau di makamkan di Pemakaman Ma’la, bersanding dengan makam Ummul Mu’minin Khadijah Al-Kubra isteri pertama Rasulullah SAW.
    Atas wafatnya ini, As-Syeikh Muhammad Khazraji, sejarawan dan ahli fikih dari Uni Emirat Arab, mengatakan : “Al-Maliki adalah seorang peneliti yang handal. Beliau adalah seorang ‘alim yang tersinari pohon kenabian dan berkah keturunan Bani Hasyim.”
(“Sholawatullah dan Salamullah atas junjungan kita Nabi Muhammad Rasulullah Shollallahi  ‘alaihi Wa Alihi Wassalam dan para dzuriatnya, khususnya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani hingga akhir zaman...Amiiin Ya Robbal ‘Alamiin.”)

Sumber  :
Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, tahun 2009.