Kamis, 22 Agustus 2013

Al-Habib Muhammad Bin Husein Al-Aydrus (Habib Neon) : Pemilik Wajah yang Bercahaya dalam Kegelapan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



Al-Habib Muhammad Bin Husein Al-Aydrus (Habib Neon) :
Pemilik Wajah yang Bercahaya dalam Kegelapan


    Sebagaimana syair dalam bait-bait sholawat Burdah karya Imam Al-Bushiry, dibawah ini :

أكرمْ بخَلْق نبيّ زانه خُلـُـــقٌ بالحسن مشتملٍ بالبشر متَّســـــمِ

“Alangkah mulia pribadi Nabi SAW, yang dihiasi pekerti dengan keindahan yang memancarkan sinar wajah nan berseri.”

كالزهر في ترفٍ والبدر في شرفٍ والبحر في كرمٍ والدهر في هِمَمِ

“Indah laksana bunga, dan mulia laksana purnama. Kedermawanannya seluas samudera, dan cita-citanya sepanjang masa.”

      Begitulah kiranya gambaran wajah Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus yang terkenal dengan sebutan “Habib Neon”. Gelar ini dikarenakan menurut riwayat, bahwa pada suatu saat dalam sebuah masjid di Kota Surabaya tiba-tiba lampu padam sehingga keadaan menjadi gelap gulita. Padahal di dalam masjid sedang digelar acara pengajian.

      Baru ketika Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus masuk ke dalam masjid, tiba-tiba terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan. Bagian dalam masjid yang tadinya gelap gulita mendadak terang benderang, seperti disorot lampu Neon. Ternyata cahaya Neon itu adalah sinar yang memancar dari wajah Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus. Semenjak itulah masyarakat memberikan gelar kepada beliau dengan sebutan “Habib Neon”.

     Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus lahir di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman pada tahun 1902M. Ayahnya memberinya nama “Muhammad Masyhur”. Kewalian dan derajat(maqam) serta karomah Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus begitu masyhur di kalangan kaum ‘Arifbillah.

     Semenjak kecil Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus dididik dan diasuh secara khusus oleh ayah beliau, yaitu Al-‘Arifbillah Al-Habib Husein bin Zainal Abidin Al-Aydrus. Lingkungan keluarga mereka adalah para pembesar ulama dan auliya di kalangan Bani ‘Alawi, yang mewarisi ‘asrar’ dari para pendahulunya.

     Mulai dari ayah, kakek hingga datuk beliau memiliki maqam yang amat tinggi di sisi Allah SWT. Mereka adalah kaum ‘Arifbillah yang memiliki beberapa karya yang kandungan isinya mampu memenuhi gudang kitab-kitab ilmu ma’qul dan manqul, sekaligus ilmu-ilmu furu maupun ushul yang ditulis berdasarkan dalil-dalil yang dapat dipertanggung jawabkan, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para ulama dari kalangan salafusnasshalihin.

     
       Nasabnya adalah Al-Habib Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad bin Husein bin Mustafa bin Syeikh bin Muhammad Mustafa bin Ali Zainal Abidin bin Abdullah Al-Ausath bin Syeikh bin Abdullah bin Syeikh bin  Abdullah Al-Aydrus Al-Akbar bin Abubakar bin Abdurrahman Assegaf  bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammmad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala’Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-‘Uraidhi bin Jakfar Ash-Ashadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal’Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.

     Habib Neon adalah tipe orang yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang yang berkunjung kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang, karena memandang wajah beliau yang ceria dengan pancaran nur ilahiah. Beliau sangat perhatian dan kasih sayang terhadap fakir miskin. Dan Habib Neon tidak pernah menolak untuk menghadiri undangan yang diadakan oleh orang-orang miskin. Bahkan jika ada undangan yang bersamaan beliau lebih mendahulukan si miskin.

     Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus pernah berkata : “Di masa permulaan menuntut ilmu, aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Aku juga senantiasa menguji nafsuku ini dengan mengikuti perjuangan mereka (para kaum salaf) yang di kisahkan dalam kitab-kitab itu.” Di antara mujahadahnya adalah selama tujuh tahun beliau berpuasa dan berbuka hanya dengan tujuh butir kurma. Pernah juga beliau selama satu tahun tidak makan, kecuali lima mud saja.

     Waktu-waktunya beliau gunakan untuk selalu berzikir kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Rasulullah SAW. Setiap pembicaraan yang keluar dari lisan beliau selalu bernilai hikmah dan kebenaran.

     Rumah Habib Neon selalu terbuka bagi para tamu yang datang. Tamu-tamu itu datang dari berbagai penjuru kota, bahkan ada sebagian yang datang dari luar negeri. Beliau melayani dan menjamu para tamu-tamu itu dengan suka cita.

     Sedangkan waktu antara maghrib dan isya, beliau pergunakan untuk membaca kitab-kitab yang menceritakan perjalanan kaum salaf Bani Alawi. Setiap malam jum’at beliau mengadakan pembacaan Burdah (karya Imam Al-Bushiry) di tempat tinggal beliau yang dihadiri kaum muslimin.

     Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus memulai merintis majelis Burdah setiap malam jum’at, semenjak tahun 1950-an. Majelis ini dipimpinnya hingga beliau wafat.

     Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus wafat pada tanggal 30 Jumadil Awwal 1389H, bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1969M, dalam usia 71 tahun. Dan sesuai dengan wasiatnya agar di makamkan di pemakaman umum Pegirian, Surabaya.

(“Sholawatullah dan Salamullah atas junjungan kita Nabi Muhammad Rasulullah SAW dan para dzuriatnya, khususnya Al-Habib Muhammad bin Husein Al-Aydrus hingga akhir zaman...Amiiin Ya Robbal ‘Alamiin.”)



*******


Sumber :

- Abdul Qadir Umar Mauladdawilah,  “17 Habaib Berpengaruh di Indonesia”  Tahun  

  2008.
- Sri Utami, syair burdah dan terjemahan Bahasa Indonesia