Rabu, 31 Juli 2013

Tuan Guru K.H.Muhammad Seman Bin Muhammad Saleh Al Banjari : Riwayat Hidup Singkat Pengamanah Mutlak Ilmu Makrifatullah



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



      Tuan Guru Al 'Arifbillah Syekh KH. Muhammad Saman Al-Banjari Pengamanah mutlak Ilmu Ma'rifatullah Wa Ma'rifaturrasul penulis kitab "Awwaluddin" lahir di Astambul Martapura Kalimantan Selatan, pada tanggal 11 Maret 1919 dari seorang Ayah bernama Gusti Muhammad Saleh Bin Tuan Guru Matasin Bin Tuan Guru Muhammad Ali Binti Syafiah Binti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dan seorang Ibu bernama Antung Sawiyah Bin Gusti Gantung Bin Pangeran Syaidullah.
     Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara yaitu: 1). Antung Jainur, 2). Gusti Mahrus, 3). Gusti Masran, 4). Gusti Salman dan 5). Gusti Masnun (Nama beliau diwaktu kecil). Kehidupan beliau diwaktu kecil berjalan lancar penuh kedamaian di bawah asuhan kedua orang tua beliau. Ketika berusia tujuh tahun ibu yang sangat ia cintai yang selama ini menjadi tempat mengadu dan bermanja dipanggil kehadirat Allah Rabbul Jalil. Maka selanjutnya ia diasuh oleh neneknya sampai usia 13tahun. Kemudian nenek kembali pula kehadirat-Nya. Selanjutnya diasuh oleh Paman beliau sampai dengan dewasa.
      Pada tahun 1944 di jaman penjajah Jepang menjadi laskar Jepang, Heiho. Sampai dengan tahun 1945 sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, bersama kawan-kawan melarikan diri dari Heiho setelah membunuh tujuh orang Jepang. Bersama dengan teman pada tahun 1947 bergabung dengan pasukan revolusi mempertahankan kemerdekaan yang ingin direbut kembali oleh penjajah Kolonial Belanda.Pada tahun 1950 menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan pangkat Sersan Mayor Batalyon 602 Kompi IV Lambung Mangkurat sebagai Komandan Pleton II, dan kemudian berhenti pada tahun 1953 dari Dinas Ketentaraan.
     Ditahun 1950 ini pula beliau memperoleh jodoh dan menikah dengan seorang wanita bernama Fatimah Binti Abdul Muthalib di Tarakan. Dari perkawinan ini melahirkan putra-putri sebanyak tujuh orang yaitu: 1). Norma, 2). Nosyehan, 3). Muhammad Syamsuri, 4). Muhammad Syamsiar, 5). Galuh Srikandi, 6). Rukiah, 7). Hendra Negara.
     Antara tahun 1953 sampai dengan tahun 1956 setelah berhenti dari Dinas Ketentaraan hidup beliau tidak menentu, melakukan berbagai macam pekerjaan untuk menghidupi keluarga (anak dan istri). Mencari penghidupan ke negeri tetangga seperti ke Tawau, Sabah, Malaysia, bahkan sampai ke Filipina.
     Kemudian atas kehendak Allah Rabbul Jalil pada tahun 1956, ia memperoleh limpahan ilmu secara ” LADUNI , melalui Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Pertama ilmu yang diperoleh yaitu tujuh mata pelajaran pokok Ma'rifah yaitu:
1. Mengenal Diri, 2. Mematikan Diri Sebelum Mati, 3. Kesempurnaan La ilaaha illallah, 4. Dzikrullah, 5. Istinja 6. Junub, dan 7. Tanda-tanda Sakaratul maut. Sejak tahun 1957 ilmu yang diperoleh, mulai diajarkan kepada orang-orang sekitar tempat tinggal di Tarakan, dari rumah ke rumah seorang diri.
    Kemudian pada tahun 1960 dengan Rahmat dan Ridho Allah beliau kembali secara Laduni diperkenalkan pada Dzat-Nya yang bersifat Laisa Kamisylihi syai'un secara langsung tanpa melalui mahluk. 
   

 Maka mulai pada tahun 1960 ini ditambah satu mata pelajaran yaitu mengenal Dzat Allah Rabbul Jalil dan Ilmu ini dinamakan"Awwaluddin Ma'rifatullah Wa Ma'rifatur Rasul" hingga sampai sekarang ini. 
    Dalam perkembangannya dari tahun ke tahun sampailah ia kenegeri tetangga Malaysia untuk mengajarkan ilmu yang ada pada diri beliau khususnya Tawau, Kota Kinbalu, dan sekitarnya di Sabah, bahkan sampai ke Brunai Darussalam sehingga sampai dengan sekarang ini murid-murid beliau ribuan jumlahnya. Selama kurun waktu 1980 sampai 1990-an ia bolak balik Tarakan-Samarinda untuk mengunjungi putra beliau yang berdomisili menetap di Samarinda, kesempatan ini ia gunakan untuk mengajarkan ilmu Ma'rifatullah Wa Ma'rifaturrasul kepada orang-orang muslim yang ikhlas mau belajar kepada beliau, sehingga lambat laun di Samarinda pun mulai banyak pula murid-murid beliau.
      Pada tahun 1995 beberapa murid yang menyadari perlunya sebuah organisasi untuk melaksanakan pengajian, berkumpul dan bersepakat membentuk Majelis Ta'lim Ma'rifatullah Wa Ma'rifaturrasul Cabang Samarinda.Sedangkan pusatnya di Tarakan. Sejak tahun 1997 dia menetap di Samarinda dan Pusat Majelis Ta'lim Ma'rifatullah Wa Ma'rifaturrasul dipindahkan ke Samarinda.


      
      Tuan Guru Al 'Arifbillah Syekh K.H.Muhammad Seman Bin Muhammad Saleh Al Banjari telah berpulang ke Rahmatullah pada jam 22.00 wita, malam Selasa 21 Ramadhan 1434H  atau tanggal 30 Juli 2013M. Beliau wafat diusia 94 Tahun,di Kota Samarinda.

(“Semoga Rahmat dan KeRidhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu tercurah kepada Kakeknda Tuan Guru Syekh K.H.Muhammad Seman Bin Muhammad Saleh Al Banjari, demi kemuliaan Bulan Suci Ramadhan tahun ini....Amiiin..Ya..Robbal ‘Alamiin”)
_________________

Sumber Bacaan :
Dikutip dari Buku Awaluddin Ma'rifatullah Wa Ma'rifaturrasul - Tuan Guru Syekh KH. Muhammad Saman Al-Banjari oleh: Sugeng, Ihwanul Ma'rifah.