Minggu, 28 Juli 2013

Maulana Al Habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf - Gresik : “ Mutiara yang Berkilau dari Keluarga Assegaf “

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



Maulana Al Habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf - Gresik  :
“ Mutiara  yang Berkilau dari Keluarga Assegaf “

     
           Maulana Al-Habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf lahir di Besuki, Jawa Timur pada tahun 1285H. Nasab beliau adalah Al-Habib Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam Wadi Al-Ahqaf Umar bin Segaf bin Muhammmad bin Umar bin Toha bin Umar bin Toha bin Umar Ash-Shofi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammmad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala’Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-‘Uraidhi bin Jakfar Ash-Ashadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal’Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.
       Bersama ayahnya beliau pindah ke Kota Gresik. Tak lama kemudian ayah beliau wafat di Gresik, saat usia Habib Abubakar masih delapan tahun. Kemudian beliau berangkat ke Kota Seiwun, Hadramaut. Di sana Habib Abubakar tinggal di rumah pamannya Al-‘Arif Billah Al-Habib Syeikh bin Umar bin Segaf Assegaf, yang mengajari ilmu fiqih dan ilmu tasawuf sampai Habib Abubakar beranjak dewasa.
       Selain itu, Habib Abubakar juga belajar kepada para ulama besar di zamannya di Kota Seiwun. Diantaranya adalah Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shahib Maulid Simtuddurar), Al Habib Muhammad bin Ali Assegaf, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur, Al-Habib Syeikh bin Idrus Al-Aydrus dan masih banyak lagi para ulama dan Auliya yang menjadi guru beliau.
       Di sana beliau menggunakan seluruh waktunya untuk belajar, mengambil ijazah dan bertabaruk dari para ulama dan auliya yang berada di Kota Seiwun, Tarim dan kota-kota lainnya di Hadramaut (Yaman). Setelah dirasa cukup dan atas izin dari para gurunya, beliaupun meninggalkan Hadramaut dan kembali ke Indonesia, tepatnya pada tahun 1302H.
       Kemudian, Habib Abubakar juga menimba ilmu dan memperoleh ijazah dari para ulama dan auliya Habaib di Indonesia. Pada suatu hari Jum’at ketika sedang khusyu mendengarkan khatib berkhutbah, datanglah ilham Rabbaniyah dengan lintasan hati rahmani dan sebuah izin Rabbani kepada Habib Abubakar Assegaf untuk beruzlah. Maka berkhalwatlah beliau dengan penuh kesabaran dan ketabahan sampai lima belas tahun lamanya. Pada saat menjelang keluar dari khalwatnya, beliau disambut oleh guru beliau Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya) seraya memeluknya dan berkata : Aku memohon dan bertawajjuh kepada Allah selama tiga malam berturut-turut untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf dari uzlahnya”.
       Kepada masyarakat yang hadir pada majelis di masa itu, Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi berkata seraya menunjuk kepada Habib Abubakar Assegaf : Abubakar merupakan suatu khazanah daripada khazanah keluarga ba’alawi, kami membukakannya untuk kemanfaatan manusia, baik yang khusus maupun yang umum”.
       Semenjak itu Al-Habib Abubakar Assegaf mulai membuka majelis taklim (rakha) di kediamannya di Kota Gresik. Dalam majelis tersebut yang dikaji adalah kitab-kitab para salafusshalihin dari kalangan ba’alawi. Setiap malam Jum’at Al-Habib Abubakar Assegaf mengadakan pengajian kitab IhyaUlumuddin (karya Imam Ghazali). Dalam waktu yang begitu singkat, beliau telah menjadi tumpuan bagi umat di zamannya.

       
       Al-Habib Abubakar Assegaf telah mencapai maqam tingkatan Ash-Shiddiqiyah Al-Kubra. Beliau sebagai tempat rujukan para auliya dimasanya. Telah cukup sebagai bukti keluhuran maqam beliau yang telah mencapai kedudukan berjumpa dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga. Beliau mengatakan :Rasulullah telah datang kepadaku dan aku dalam keadaan terjaga. Beliau memelukku dan akupun memeluknya”.
       Para ulama dan auliya bersepakat, bahwa maqam ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga (bangun), adalah maqam yang tertinggi diantara semua maqam.Ini tidak lain dalah buah ittiba’ (peneladanan) yang sempurna terhadap Rasulullah SAW. Adapun kesempurnaan istiqamah beliau merupakan puncak dari segala karamah dan kemuliaan yang ada pada dirinya. Beliau adalah Al-Imam Al-Qutubul Fard Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf.
       Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad (Jombang) mengatakan :Al-Imam Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang pemimpin auliya’ saat ini. Beliau telah berada di puncak maqam yang tertinggi, beliau mampu mengetahui hakekat dari segala sesuatu.
       Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf,  wafat pada malam Senin 17 Dzulhijjah1376H dalam usia 91 tahun. Di saat menjelang akhir hayatnya, beliau selalu mengatakan :Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah. (“Semoga Allah SWT selalu mencurahkan limpahan Rahmat dan KeRidhoan-Nya kepada Al-Habib Abubbakar Assegaf beserta seluruh dzuriat Rasulullah SAW sampai akhir zaman...Amiiin ya Robbal ‘Alamin”.)


Sumber Bacaan : “17 Habaib Berpengaruh di Indonesia” oleh Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, Tahun 2008.